Padahal saya sendiri benci menunggu. Tapi sudahlah, bukankah itulah prinsip waktu? Ketika kita menunggu, kita akan lebih menghargai makna kedatangan.
Jika namamu yang ditulis di Luh Mahfuz untuk diriku, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan untuk kita berdua.

You Are The Sunshine Of My Life


Pertama kali dengar lagu ini adalah ketika saya menghadiri Konser Paduan Suara Gita Smala angkatan di bawah saya. Kali itu Mas Bagus mengusung tema lagu-lagu cinta yang dikemas dalam nuansa Jazz. seperti tradisi sebelumnya, konser tersebut bertujuan untuk melatih mental (terutama) para PSGS-ers yang akan mengikuti kompetisi Festival Paduan Suara ITB.
Untuk pertama kalinya saya dengar lagu tersebut, keren, bagus. Saya langsung jatuh hati dan segera mencari apa judul lagu tersebut. Ternyata lagu itu memiliki judul You Are The Sunshine Of My Life yang dibawakanoleh Stevie Wonder.

Yah, Stevie Wonder, selain lagu I Just Called To Say I Loved You dan That's What Friends Are For. Yang paling saya suka dari lagu-lagu Stevie Wonder adalah nuansa Jazz-nya yang begitu kental dan unik yang dapat membuat pendengar tidak bosan mendengarnya. Selain itu liriknya pun juga cukup bagus.

Berikut video Stevie Wonder - You Are The Sunshine Of My Life yang dibawakan secara live.

http://youtu.be/uPyq4iqt6Go
















Dan kucing pun mengerti kalau Forehead Kiss itu sungguh romantis :)

Sebuah Renungan

Sebenarnya, alasan saya membuat sebuah postingan baru adalah hanya karena satu orang yang tiba-tiba membuat saya salah tingkah dan panik sendiri. Setelah dia mengabarkan kalau dia membaca salah satu postingan blog saya. Bukannya tidak suka, tapi saya malu, belum terbiasa kalau postingan dari kedua tangan mungil ini dibaca oleh khalayak umum. akhirnya saya memutuskan untuk menyamber si merah yang tak kalah mungil ini dan yah, menulis lagi.


Sebenarnya (lagi), saya baru saja pulang dari Makrab Kelas 1P yang berlokasi di Cisarua, Bogor. Dan ini merupakan makrab kedua sekaligus terakhir bagi kami penghuni 1P. Di perjalanan pulang menuju Bintaro, entah kenapa, mungkin ada malaikat berbaik hati yang duduk di samping saya sehingga tiba-tiba saya merenungkan diri sejenak. Mencoba berpikir kritis, menganalisis dan mengkaji semua yang terlintas di otak saya pada saat itu. Tiba-tiba saya berpikir dan saya heran, kenapa masih saja ada orang yang tidak bersyukur atas segala anugerah, berkah dan rahmat yang telah diberikan oleh Allah kepadaNya.


Anugerah bagi saya sangatlah luas cakupannya. Pertama, anugerah bagi saya adalah keluarga, siapa sih yang tidak ingin memiliki keluarga yang utuh dan bahagia? Saya rasa tidak ada.
Teman, pendidikan, karier, cinta juga merupakan anugerah di mata saya. Tentu saja saya tidak dapat hidup tanpa hal-hal tersebut. Bisa, namun sulit sekali untuk bertahan. Selain poin-poin yang sudah saya sebutkan, kecantikan dan prestasi baik akademis maupun non akademis juga termasuk anugerah bukan? Ya, menurut saya. Jarang lho, orang cantik yang menyadari kalau kecantikannya itu merupakan anugerah. Malah terkadang mereka tidak bisa menggunakan dan menjaga anugerah tersebut dengan baik.
Lalu, yang saya herankan adalah, kenapa orang-orang yang notabene memiliki semua atau beberapa hal yang telah saya sebutkan di atas tersebut tidak dapat atau mungkin belum bisa menghargai, menjaga, mensyukurinya?
Kenapa masih saja ada orang yang iri akan jatah anugerah milik orang lain?


Bukannya munafik. Jujur, saya juga pernah merasakan hal-hal tersebut. Terkadang kita sebagai manusia, tidak dapat mengukur tingkat kebahagiannya sendiri. Saya pernah merasakan juga, pernah sirik kepada orang lain yang tingkat kebahagiannya jauh di atas saya. Namun lama kelamaan saya sadar, saya ingat bahwa semuanya telah diatur sedemikian indah oleh yang Maha kuasa. Belum tentu apa yang membuat bahagia Si A dapat juga membuat bahagia Si B dan begitu pula sebaliknya. Dan akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa,  tiap-tiap manusia bahagia dengan jalannya masing-masing. Mereka telah digariskan untuk bahagis dalam konteks dan paradigma mereka masing-masing.


Oleh karena itu, bersyukurlah. Karena dengan bersyukur kita dapat lebih memaknai dan menghargai hidup ini.


NB: Penulis juga sedang dalam proses untuk selalu melafalkan kalimat syukur dalam setiap harinya. Mari kita bersyukur :)

Sejenak teringat Fisika, Biologi dan Kamu.

Kita adalah semacam bioluminescence dalam garis-garis kehidupan yang saling bersilangan. Kadang cahayamu remang, cahayaku terang. Atau sebaliknya. Dalam gelap, kita saling mencari secercah masing-masing. Memicingkan mata pada rindu yang membuncah dan membuat kita resah.

Aku bergerak secara oscillasi menujumu. Cinta kita adalah semacam polarisasi optik terhadap silang emosi yang tarik-menarik. Semua yang indah akan nampak seperti titik-titik cahaya yang kau lihat dari balik pelupuk mata yang basah. Semuanya seperti pecah sekaligus rekat. Seakan jauh sekaligus dekat.

Kita tunduk pada hukum Snellius: seperti sudut datang dan sudut bias pada cahaya yang melalui batas antara dua medium isotropik berbeda. Kamu. Dan aku. Di tengahnya, ada kita.


NB: Penulis terinspirasi karena sedang mengalami kerinduan yang sangat akut terhadap dua mata pelajaran tersebut.

Menutupi, Tersembunyi.

satu masa , berputar dalam relung ruang.
tanpa titik henti . mungkin akan selalu seperti itu .

pernah mencoba untuk berhenti, tapi tidak berarti .
oke, saya melanjutkan perjalanan tanpa kepastian ini.

menapaki langkah demi langkah . mencari butir-butir makna yang bersembunyi .
bersembunyi dibalik riuhnya kondisi .

aku mencoba mengikutimu .
mengendap-endap di balik bayanganmu .
tapi kamu menghilang . aku gagal .
mungkin kali ini lebih tenang . sudah faham .
akan ada yang lebih bergejolak . mungkin . nanti . tak tau .

entah . entah . entah .
hanya kamu yang bisa menghentikan .
aku hanya berperan . tak akan pernah segan .
tak akan pernah lelah untuk mengejarmu .
mengejarmu dengan caraku .
caraku yang hanya berani bersembunyi dibalik rasa . tanpa terucap kata .

hei! aku menikmati senyumanmu .
aku mengagumimu . tanpa kamu tau .
unik , memang :[

aku menunggumu . menunggumu menghentikan aku yang masih berlari .
mencari ruang kosong dihatimu .
menunggumu memberi titik henti dalam perjalananku .
perjalanan tanpa kepastian ini .
kepastian tanpa tuntutan . itu hatimu .
aku menunggu . disini .
ditemani kondisi yang siap menertawakan .
mungkin akan selamanya seperti ini . mungkin . tidak tau .



Penyair muda berbakat yang saya kagumi, Oki Erwina Pianisia.

Lagi

Malam ini bulan tak tampak
Tega membiarkan langit hitam kosong
Bintang pun enggan datang
Dan langit benar-benar hitam kosong
Ah, mungkin bulan sedang marah
Hingga tak mampu menemani malam
Lalu,
bagaimana dengan Bintang?
Bintang pun mengalah
Ia takut sinarnya tak indah
Tak seindah ketika bersama Bulan
Bintang menunggu,
Menunggu Bulan untuk bersinar bersama,
lagi ..

Dua Tiga Belas

Tiga belas yang ini, beda
Tidak seperti yang orang katakan
Tiga belas itu sial
Tiga belas itu pembawa petaka
Entah apa itu trikaidekaphobia, atau paraskevidekatriphobia
Ah, sudahlah!
Mereka semua muak dengan tiga belas
Iya, muak!
Tapi,
Tiga belas yang ini, indah
Tiga belas yang ini, istimewa
Tiga belas yang mampu mengukir senyum untuk tiga belas lainnya
Ya,
ada tiga belas yang lain
Dua tiga belas yang entah tuli atau pura-pura tak peduli
Terserah apa yang mereka katakan
Karena dua tiga belas itu percaya
Di antara satu dan tiga
Ada dua
Dua yang saling melengkapi

Anak Udik di Ibukota Part 3

Dan ini sepertinya bagian akhir dari tulisan gue "anak udik di ibukota". Jujur aja sebenernya males nulis, tapi kok kayaknya nggantung kalo ditingggalin gitu aja. Ceritanya masih banyak, haha.

Jadi, singkat cerita aja ya, intinya kita memberanikan diri untuk berpartisipasi dalam acara Food Tasting Festival (baca: makan gratis). Intinya kami makan gratis, makan ampe gila kayak gak pernah dikasih makan enak bertahun-tahun, okeh bayangin sendiri.
Ya namanya anak udik yang dapet makanan gratis, kita tuh berasa kayak abis kejatuhan durian montong yg guedee banget. Rejeki banget kita bisa nemuin festival itu, padahal niatnya mau sholat Ashar, ketunda deh setengah jam.

Setelah asik ngisi perut, kami gak lupa buat mengucap syukur pada-Nya. Oke, kita langsung capcus nyari musholla. Lumayan sulit juga sih, soalnya GPS kita udah pulang duluan. Tapi kita punya inisiatif dong buat tanya ke Pak Satpam. Nemu deh tuh musholla, akhirnya kita solat Ashar, tanggung waktunya, kita tunggu Magrib sekalian di sana.

Abis Magrib-an, kita pulang. Naik busway trus lanjut naik taxi dari Blok M, waktu itu langit udah gelap banget. Gue paling menikmati pemandangan kota Jakarta pas gue lagi di atas jembatan layang. otomatis gue bisa ngeliat kerlap-kerlip lampu Ibukota dari atas, bagus banget. Mungkin itu alasan yg dibuat para fotografer mengabadikan momen-momen indah itu di atas jembatan layang. Sayang aku gak bisa ambil gambarnya :")

Inti yg bisa gue ambil dari perjalanan gue hari itu adalah, gue lihat Jakarta yg sesungguhnya. Dimana setiap kamu lihat sekelilingmu adalah makhluk-makhluk ber-BB ber-behel dan ber-ber lainnya. Dan gue lihat itu sendiri, setelah beberapa bulan lalu gue cuma denger hal itu dari mulut seorang temen. Oh, ini ya Jakarta, dimana bocah tengil yg ngomong aja masih belum fasih udah pegang BB, bahkan nutul-nutul apel growak. Oh My..
Kalo di Surabaya, gampang banget bedain org Jawa sama nonJawa. Kamu cari aja yg make bajunya gak bener, itu pasti bukan Jawa. haha. Gak gitu juga sih. Jalan jalan di Mall-mall Jakarta cuma bikin lo ngiri kalo lo gak punya duit, liat kiri liat kanan orang-orang pada modis dan cantik. Bandingin aja sama gue yg asal comot baju, haha.

Yak, itulah secuil pengalamanku di ibukota. Mungkin lain waktu aku bisa sharing lagi.
(hmm, lagi gak mood nulis) -________________-