Hai, DEVOSI BEM STAN kembali lagi dengan salah satu program kerjanya yaitu ORAK ARIK.
Bagi yang belum tahu apa itu ORAK ARIK.. ORAK ARIK adalah obrolan asik mengenai isu-isu internal kampus yang dikemas secara semiformal tetapi menarik dengan melibatkan elkam maupun lembaga kampus dalam lingkup outdoor. Agar nantinya dapat ditemukannya benang merah dari isu-isu tersebut.
Nah, ORAK ARIK edisi Kamis, 26 April 2012 ini membahas beberapa topik, di antaranya adalah “Keamanan Kampus”, “Apakah STAN berubah menjadi UKN?”. Pembicara kita kali ini adalah Bapak Ali Tafriji yang lebih akrab dengan sebutan Pak Altaf dan Bapak Rahmat. Gak kalah menariknya, kami juga mengundang perwakilan dari Satuan Keamanan Kampus, beliau adalah Pak Baryono dan Pak Mamat. Seperti biasa, ORAK ARIK tidak akan lengkap tanpa hadirnya gorengan dan kopi sebagai konsumsi gratis. Lalu, bagaimana hasil dari diskusi ORAK ARIK kali ini? Yuk kita kemon! :D
Akhir-akhir ini kita sering ngerasa nggak sih kalo kampus dimana kita kuliah ini berkurang tingkat keamanannya? Lumayan banyak laporan kehilangan dari rekan-rekan kita. Mulai dari handphone hingga motor. Tentu saja ini merugikan dan mengganggu proses belajar kita secara tidak langsung kan? Nah, lalu bagaimana tanggapan narasumber? Poin pertama, kita sebagai mahasiswa tentunya sudah cukup dewasa untuk dapat menjaga barang yang dimiliknya. Pak Mamat berpesan agar kita selalu berhati-hati dan waspada akan lingkungan sekitar. Ini bukan berarti dari pihak lembaga dan pihak keamanan lepas tangan akan hal berikut, “Kami akan selalu membantu, siapapun yang merasa kehilangan barang, dapat melaporkan hal ini ke KANTOR KOMANDAN, nantinya kami akan melacak melalui cleaning service di gedung yang bersangkutan”, begitu kata Pak Mamat. Intinya, antara mahasiswa, lembaga dan satuan keamanan kampus saling bekerja sama untuk menjaga keamanan kampus kita tercinta.
Topik kedua yang dibahas adalah.. Apakah STAN akan berubah menjadi UKN a.k.a Universitas Keuangan Negara?? Tentunya wacana yang beredar di lingkup kampus kita ini menjadi perbincangan yang cukup menarik bagi kita semua. Tak hanya menarik namun kita sendiri penasaran kan, gimana sih kelanjutan status dari kampus kita? Kali ini Bapak Altaf yang angkat bicara. Salah satu dari rekan kami ada yang bertanya, “Jadi, ini msh wacana jangka panjang dan pasti atau isu belaka, atau jangka pendek sih?” Jawabnya adalah hal ini merupakan wacana jangka pendek. Mengapa jangka pendek? Karena, Menteri Keuangan akan mengambil keputusan mengenai hal ini pada tahun ini juga, tapi kami belum tahu kapan pastinya. Tentunya, bila STAN berubah menjadi UKN, maka STAN tidak lagi berada di naungan Kementerian Keuangan. “Nah, berarti STAN jadi kampus yang berbayar dong?” Tentu saja jawabnya. Sisi lainnya, UKN tidak hanya membuka program pendidikan diploma saja, namum juga membuka program pendidikan strata. Sehingga cakupannya lebih luas dari sebelumnya. Yang ditanyakan adalah, “Apakah STAN masih ikatan kerja?”.. jawabnya adalah ya, masih. Pada intinya, STAN, apapun itu berganti namanya, tetap merupakan pesanan dari kementerian keuangan. “Lalu, apa sih yang menjadi alasan utama bila nantinya STAN berubah menjadi UKN?”.. Setiap diri kita pasti menginginkan adanya perubahan, tidak mungkin dalam hidup ini ada makhluk yang ingin selalu statis dalam perjalanan hidupnya. Tentu tidak bukan? Nah, sama saja dengan STAN. STAN dituntut untuk berubah ke arah yang lebih baik pastinya. Bukannya sebelumnya sudah terjadi transformasi pada kampus kita dan akhirnya lahirlah nama STAN? Seperti itu singkatnya. Dalam masa transisi tersebut, pasti tidaklah mudah. Kampus harus mengubah semuanya dari dasar.dan yang perlu kita ketahui, kampus kita ini tidak memiliki dosen lho. Dosen-dosen yang mengajar kita ini adalah dosen yang sesuai dengan kriteria Menteri Keuangan. Jadi bila STAN berubah menjadi UKN, maka akan ada seleksi dosen.
Nah, ada beberapa hal yang perlu kita catat nih guys.. Berikut ini merupakan pesan dari para narasumber kita, check it out!
- Semua mahasiswa mohon dijaga ketertiban dan kedisiplinannya terhadap peraturan-peraturan di kampus ya..
- Bila meminjam atau memakai fasilitas kampus (ex: kelas, gedung, student center dsb) mohon dijaga kerapian, keutuhan fasilitas tersebut. Agar nantinya lembaga percaya bahwa mahasiswa STAN dapat “menjaga” apa yang telah diamanatkan. Tentunya tata-cara pinjam meminjam ini sudah cukup jelas kan? Perjanjian hitam di atas putih.
- Bila ada saudara, adik kelas atau siapapun yang bertanya, “USM STAN masih ada nggak Kak?”, jawabnya kami belum bisa memastikan, karena Menteri Keuangan belum mengambil keputusan. Hanya saja, alokasi anggaran untuk USM pada tiap tahunnya selalu ada, namun penyelenggarannya belum dapat dipastikan. We just can wait.
- Nah, bila rekan-rekan sekalian pernah merasa semacam dibentak oleh pihak satuan keamanan kampus, jangan malu-malu untuk lapor. Kita juga punya hak kan?
- Hmm, apa sih guna teralis Gedung X itu? Begini, karena di dalam gedung tersebut sudah dilengkapi dengan computer, maka perlu diadakannya penjagaan yang ketat untuk menghindari terjadinya kriminalitas.
- Wah Pak, kami takut menghadapi “Psikotes” nanti.. Tenang saja, tidak perlu dikhawatirkan, dipersiapkan saja dari sekarang, mulai menyingkirkan attitude-attitude yang dirasa kurang baik. Tunjukkan pada negara kalau kamu mahasiswa yang berintegritas!
- Bagi rekan-rekan yang ingin berkomentar langsung dalam lingkup Kementerian Keuangan, ada Biro Komunikasi dan Layanan Informasi lho yang mau menampung aspirasi dari kita, yuk!
Sampai juga kita di penghujung cerita, kami dari pihak DEVOSI BEM STAN mohon maaf bila ada kata yang tidak berkenan. Terimakasih banyak atas perhatian rekan-rekan, HIDUP MAHASISWA, HIDUP RAKYAT INDONESIA!!
SAMPAI JUMPA DI ORAK ARIK BERIKUTNYA :)
Get Married!
"Menikah itu tidak hanya mempertemukan dua orang manusia, tetapi menikah itu mempertemukan dua keluarga. Kamu pikir menikah itu mudah? Menikah itu sulit dan butuh persiapan yang matang."
No no no, saya belum kepengen menikah kok. Ini hanya wacana, iya wacana. Jadi filosofinya adalah, saya juga tidk mengerti, tiba-tiba saja ingin melanjutkan postingan yang sempat tertunda beberapa hari karena menumpuknya tugas dan baru sempat hari ini untuk melanjutkannya.
Jadi begini, waktu itu saya sedang ngobrol berdua dengan salah satu teman saya di beranda depan rumah. Ngobrol-ngobrol biasa, becandaan gak penting hanya untuk sekedar membunuh waktu *ceilah*. Nah entah kenapa obrolan kami mendadak menjadi serius, "Pernikahan". Well oh well. Waktu itu kami berdua sama-sama sudah mempunyai pasangan, bedanya lawan bicara saya sudah menjalani hubungan yang lebih lama dibandingkan saya. Nah, dia merasa bahwa dia sudah, hmm apa ya istilahnya, kata orang Jawa sih sudah mentok, udah sreg dengan pasangannya. Ya sudah, saya nyeletuk, "Oke deh ditunggu ya undangannya pas lulus kuliah.." Dan dia menjawab celetukan saya dengan gaya ceramah Aa Gym.
Memang benar, menikah itu nggak gampang. Nggak segampang kamu move on ketika ditolak gebetanmu, nggak segampang kamu lulus ulangan harian fisika-nya Bu SM *oke yang ini songong, tampar saja saya*. Nggak, nikah itu nggak gampang, tapi ketika saya berkata seperti ini bukan berarti saya tidak ingin menikah. No no no, saya juga ingin merasakan hal yang paling sakral di dunia ini, guys. Menikah itu beda dengan pacaran yang dikit-dikit berantem, lima menit kemudian udah mesra-mesraan lagi, dikit-dikit cemburu, dikit-dikit selingkuh *lho*. Menikah itu menyatukan pemikiran antara dua manusia yang masing-masing datang dari latar belakang yang berbeda. Menikah itu dimana kamu meletakkan semua kepercayaanmu kepada pasangan yang nantinya menjadi teman dalam menjalani hidup.
Menikah itu bukan akhir dari perjalanan hidup, justru menikah adalah awal dari segalanya. Justru di situlah lika-liku hidupmu dimulai, mbaksist dan masbro sekalian. Laki-laki yang biasanya hanya mikiran rokok doang yang bisa dia isep, setelah nikah dia pasti kepikiran "Aduh, bini gue ntar gue kasih makan apa ya?" atau "Njrit, gue lupa ini udah awal bulan!". Sedangkan bagi kaum hawa yang biasanya cuma bisa hedon shopping nyari diskonan dari satu mall meloncat ke mall lain, ntar bakalan mikir "Mamaaaa, ini dagingnya dicincang dulu ato dicemplungin ya?" atau "Sayang, itu kopinya udah disiapin di meja makan.." atau "Ini perut gue kok membesar gini ya? Gue gendut ya Allah, gue gendut!!" *itu hamil bego*. Nah, ribet kan. But, this is life. This is the art of life.
Maka dari itu, persiapkan masa depanmu dari sekarang. Jodoh! Carilah jodoh sedini mungkin, guys! Mengingat umur yang sudah mendekati kepala dua sungguh bukan hal yang main-main lagi untuk masalah percintaan. Seperti petuah dari Mama sahabat saya yang baru saja saya kunjungi beberapa minggu lalu, "Di usia se-kamu gini itu jangan cari pacar, tapi cari pendamping hidup.." *aduuh, beraat Tantee, beraat..*. Dan yang terpenting adalah, pernikahan itu cuma sekali seumur hidup, find the right person on the right place and time. Jangan sampai salah menentukan pilihanmu, karena seperti yang saya katakan di awal, pernikahan itu hal yang paling sakral di dunia ini.
Getting married is like permanently grafting your hand to the cookie jar. No matter how sweet those cookies may taste, you can't help but wonder what would have happened if you'd chosen some other dessert--brownies, for instance ... or frozen yogurt ... or maybe chocolate strudel.
The One Who Got Away
In life, you’ll make note of a lot of people. Ones with whom you shared something special, ones who will always mean something. There’s the one you first kissed, the one your first loved, the one you lost your virginity to, the one you put on a pedestal, the one you’re with… and the one who got away.
Who is the one that got away?
… all you know is that (one day) you’ve changed, and for some reason, the one that got away is the first person you think about. You’ll think about them because you’ll wonder, “What if she/he were here today?” You’ll wonder, “What if we were together now, with me as I am and not as I was?”
That’s what the one who got away is. The biggest what-if you’ll have in your life.
Because the very existence of “the one who got away” means that you’ll always wonder, what if you got that one? Ask him out for coffee; ask her out to a movie, it doesn’t matter if you’ve dropped in from out of nowhere. You’d be surprised, you just might be “the one who got away” as well for the person who is your “the one who got away.”
If the timing is finally right, it’ll all fall into place somehow, and it would be a great feeling, if in the end you’ll be able to say to someone, “Hey you, you are the one who almost got away.”
Kamu.
Aku tidak tahu waktu itu aku sedang berada dimana. Tapi aku bisa menggambarkan keadaan di sekelilingku waktu itu, ya, waktu itu. Beberapa kelompok manusia sedang berlalu-lalang, berjalan, berbincang satu sama lain, menenteng barang bawaan mereka yang sepertinya terlihat cukup berat. Sesekali mereka melepas tawa tanpa peduli menimbulkan bising di sekitarnya ketika ada salah satu di antara mereka yang melontarkan cerita lucu. Sesekali satu di antara mereka mencubit bahkan memukul keras pundak lainnya karena terlalu keras suara tawanya. Tanpa pedulu keadaan sekitarnya. Sepertinya mereka akan bepergian jauh dan sepertinya akan menjadi perjalanan yang cukup menyenangkan bagi mereka. Tapi tetap saja, aku masih belum mengerti, apa nama tempat dimana kakiku kupijakkan sekarang. Matahari mulai tidak malu memperlihatkan hampir semua auratnya ketika aku melihat dua anak kecil berpakaian lusuh, dekil dengan kaleng berdiameter sedang di kedua tangannya. Oh, mereka pengemis jalanan rupanya. Setelah ditolak mentah-mentah oleh seorang bapak tua dengan jenggot putih dan cerutu di tangan kanannya, dua anak kecil itu kemudian terduduk lesu, bersandar di tembok bangunan yang kelihatannya telah berumur lebih dari dua kali umurku. Aku merogoh kedua saku di celanaku dan tidak dapat menemukan apa-apa, ucapan maaf terlontar begitu saja dalam hati ini. Dan aku masih belum bisa menemukan, dimana aku sekarang ketika aku baru saja menyadari bahwa aku sedang berada di stasiun kereta. Oh pantas ramai sekali. Kutengok kanan, kemudian kiri, kemudian belakang. Maju beberapa langkah, mencari-cari orang yang bisa aku kenal. Aku hampir saja putus asa waktu itu dan kurebahkan saja badanku di sebuah kursi kayu tua yang tampaknya sudah mulai reyot. Diam. Diam dalam keramaian sebuah stasiun kereta. Dan pada akhirnya aku merasa bahwa seseorang sedang menduduki kursi kayu tua di ujung lainnya.
"Hei, sedang apa kamu di sini? Kau membuntutiku ya?", aku menemukan seorang laki-laki yang aku kenal sedang mengajakku bicara tiba-tiba.
"Bagaimana kau datang?"
"Jangan bohong, kau mengikutiku kan?"
Kemudian aku terdiam dan teringat. Semalam aku memutuskan untuk pergi ke kota ini untuk bertemu dengan dia, dia yang sedang berada di ujung lain kursi tua ini.
"Lebih baik kau balik saja, sini kubelikan tiket balik kalau kau mau, sepertinya kamu nggak membawa apa-apa kesini, kau kacau banget sih?"
Aku tersadar bahwa aku tidak membawa barang satupun malam itu, bodoh.
"Tidak, aku di sini saja, ada kamu."
"Aku? Aku sudah menetapkan untuk tinggal di sini, kota ini, aku suka sekali dengan kota ini."
"Bukannya kamu pernah bilang jangan sekalipun mengungkit kota ini di depan kedua matamu? Bukannya kamju pernah bilang jangan sekalipun mengungkit satupun kenanganmu di kota ini?", aku sedikit memberikan intonasi pada ucapanku barusan ini dan ketika mataku tiba-tiba menemukan plang yang bertuliskan kota ini.
"Itu dulu, aku sudah berubah pikiran, aku sudah memutuskan", itu kata-kata terakhir yang aku dengar dari seorang dia.
Jantungku mencelos. Dia bukan dia yang biasanya aku kenal, apakah aku salah orang?
Aku melanjutkan langkahku keluar menuju bangunan tua yang kemudian berpapasan dengan seorang kakek rua menggenggam erat jemari wanita di sebelahnya. Aku kembali tidak mengerti dimana aku berada, yang aku tahu hanyalah berjalan dan berjalan. Mungkin aku tak perlu lagi memerdulikan keadaan di sekitarku, mungkin aku tak perlu lagi memberikan kepercayaan berlebih pada seseorang, mungkin aku, mungkin aku..
Dan aku masih terus berjalan..
Beauty and The Beast
Actually I dont even know what I want to write for this post. I just sitting in my own room, eating some snacks (yes, it will increase my weight) and such a walk-blogging. My nephew has just left from here *thankies a lot for last nite dinner at Galaxy Mall, haha*
I just realized that soon i'll back to Jekardah, between happy and sad. Happy because i'll meet with my college and all stuffs about it, sad just because i must leave my lovely hometown, even i didn't get much happiness in here *sigh*.
I had so many problems here, but i won't tell about it in my own site, i think that it's too privacy to share to. But one but the worst of my problems is i had so many pimples in my face. I know that it's been so looong i suffered with it. But this is the worst ever. My mooma suggested me to go to beauty clinic and i did. My boyf took me there, it's been a week but i haven't seen the result. And now I'm freaking out, it really driving me mad. Sad :( I hope i can recover from this disease (what? disease?) because i'm a lady who wanna have a beautiful face just like Princess Belle *lalala~~ LoL.
I just realized that soon i'll back to Jekardah, between happy and sad. Happy because i'll meet with my college and all stuffs about it, sad just because i must leave my lovely hometown, even i didn't get much happiness in here *sigh*.
I had so many problems here, but i won't tell about it in my own site, i think that it's too privacy to share to. But one but the worst of my problems is i had so many pimples in my face. I know that it's been so looong i suffered with it. But this is the worst ever. My mooma suggested me to go to beauty clinic and i did. My boyf took me there, it's been a week but i haven't seen the result. And now I'm freaking out, it really driving me mad. Sad :( I hope i can recover from this disease (what? disease?) because i'm a lady who wanna have a beautiful face just like Princess Belle *lalala~~ LoL.
When Past Met Present
Hey! It's been 2 weeks here, in my hometown, Surabaya. I'm here for term holiday or they called it liburan semester. And it stays the same, I enrolled at university that has vastly different schedules with other universities. In other words, when other universities on vacation, I'm still undergoing tests. And vice versa. So, my friends are busy with their stuffs in colleges, starting their new term, yes they were just going started. Poor me, don't have friends to play with.
And me here, in front of my notebook, writing, browsing and waiting for blackberry messenger from someone out there. I dreamt a dream last nite. Such a random dream, i think, what a random. I dreamt of hmm I mean in my dream I met with people from my past and my present simultaneously. It was awkward. This is the story, my dream.
I was going to such a, maybe a modern market or plaza or whatever it called with someone in my present, it'll be easier if I call "someone in my present" as "person 1". Person 1 accompanied there, and hey... Person 1 looked so so different there, i mean, person 1 was more interest look in my dream! After that, we gotta out there and continued our trip to foodcourt. While we were walking, suddenly i looked someone in my past (i called it person 2). Olala~ I looked at person 2 and friends. Maybe person 1 was surprised with change of my face expression, "Hey, what are you looking for?" "Hmm, nothing, just, I think that now I'm looking at someone in my past.." "Was he your someone special?" "In my past, past" "Okay, let's turn away, we have to look for another way"
And the world seemed to stop spinning for a while..
Person 1 kept holding my hand, took me to other way to get to the foodcourt. I didn't even know, what person 1 was thinking about at that time. Random. And suddenly, the dream dissapears, don't know where. It became other dreams..
I met Person 3, Person 1's past. It's getting weird. I just saw person 3, I was not involved in that case, I just saw and realized that hey I was looking at you.
In this morning, 8.52 am, still have no idea about my dream last nite. I don't have any idea why do God bring together my past, my present and also his past, eventhough in my dream. *sigh*
And me here, in front of my notebook, writing, browsing and waiting for blackberry messenger from someone out there. I dreamt a dream last nite. Such a random dream, i think, what a random. I dreamt of hmm I mean in my dream I met with people from my past and my present simultaneously. It was awkward. This is the story, my dream.
I was going to such a, maybe a modern market or plaza or whatever it called with someone in my present, it'll be easier if I call "someone in my present" as "person 1". Person 1 accompanied there, and hey... Person 1 looked so so different there, i mean, person 1 was more interest look in my dream! After that, we gotta out there and continued our trip to foodcourt. While we were walking, suddenly i looked someone in my past (i called it person 2). Olala~ I looked at person 2 and friends. Maybe person 1 was surprised with change of my face expression, "Hey, what are you looking for?" "Hmm, nothing, just, I think that now I'm looking at someone in my past.." "Was he your someone special?" "In my past, past" "Okay, let's turn away, we have to look for another way"
And the world seemed to stop spinning for a while..
Person 1 kept holding my hand, took me to other way to get to the foodcourt. I didn't even know, what person 1 was thinking about at that time. Random. And suddenly, the dream dissapears, don't know where. It became other dreams..
I met Person 3, Person 1's past. It's getting weird. I just saw person 3, I was not involved in that case, I just saw and realized that hey I was looking at you.
In this morning, 8.52 am, still have no idea about my dream last nite. I don't have any idea why do God bring together my past, my present and also his past, eventhough in my dream. *sigh*
STAN! Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
Halo. Sempat ramai ya beberapa akhir ini. Lagi-lagi STAN dapet gratisan numpang di media dan lagi-lagi tentang korupsi. Yang mereka menyebutnya The Next Gayus, haha, kreatif juga. Trus, gimana nih tanggapan mahasiswa-mahasiswi STAN maupun alumnusnya? Banyak yang emosi, marah-marah dan nggak terima almamaternya dikatain sekolah para koruptor, banyak juga yang cuma bisa mengelus dada, ya udah sih..
Kalo pribadi saya sendiri, ya emang jujur saya kesal. Koruptor kan banyak, banyak banget, tapi kenapa begitu ada alumnus STAN yang korupsi, misalnya Om Gayus, eh STAN langsung disorot habis-habisan. Padahal masih banyak pegawai pajak yang integritasnya bisa diacungi jempol lho. Ada beberapa teman yang berpendapat begini, "Itu si Mbak An**e dan Om Na**r nggak dikorek-korek tuh dimana almamaternya? Kenapa musti STAN?" Bener juga sih ya.. Kenapa mesti STAN. Saya cuma bisa mengelus dada. Memang sedih banget almamater saya dikatain sekolah pencetak koruptor, tapi saya tidak mau berpendapat banyak, karena disini saya belum merasakan dunia kerja, jujur saja dan saya nggak munafik.
Yang penting sekarang saya dan teman-teman berusaha untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari STAN, itu tujuan utama saya. Tujuan kedua, biar nggak DO, ya ngerti kan, sekolah kami, nilai kecil aja udah kena DO. Bahkan menyontek aja, kalo dosennya nggak bisa selow, siap-siap angkat koper dari kos-kosan. Sedih banget kan, udah susah banget USM-nya (kata beberapa orang) dan jalur untuk masuk STAN cuma ada satu yaitu USM STAN.
Balik lagi ke masalah tadi.. Hmm, kalo ada yang menganggap STAN itu sekolah pencetak koruptor, sekarang gini aja lho.. Bukan masalah sekolahnya di STAN atau dimana. Saya yakin, baik di UI, Unair, UGM, STAN, BiNus dan universitas lainnya, nggak ada sekolah yang mengajarkan mahasiswa-mahasiswinya untuk koruptor, saya yakin 100% nggak ada. Dimana-mana sekolah itu mengajarkan siswanya pelajaran yang baik-baik kan? Jadi sekarang kembali pada individu masing-masing, manusia diberikan anugerah oleh Tuhan untuk memilih apa yang dapat mereka lakukan kan? Case closed kalo semua orang punya pandangan seperti ini.
Ya udah sih, kalo saya sudah memasuki dunia kerja dan benar-benar telah dihadapkan pada dunia yang sesungguhnya, dimana uang berkeliaran dan menggoda iman. Saya bakalan ingat-ingat, dulu saya sekolah dibiayain negara, berjuang mati-matian biar nggak kena DO, tidur jam setengah 3 pagi dan bangun subuh ketika musim ujian. Masa tega saya mengkhianati negara yang telah menyekolahkan saya. Itu prinsip saya nanti, bismillah saya akan membalas budi apa yang telah diberikan negara oleh saya. Keep your spirit STANers! Wherever you are :D
Semoga bermanfaat.
Kalo pribadi saya sendiri, ya emang jujur saya kesal. Koruptor kan banyak, banyak banget, tapi kenapa begitu ada alumnus STAN yang korupsi, misalnya Om Gayus, eh STAN langsung disorot habis-habisan. Padahal masih banyak pegawai pajak yang integritasnya bisa diacungi jempol lho. Ada beberapa teman yang berpendapat begini, "Itu si Mbak An**e dan Om Na**r nggak dikorek-korek tuh dimana almamaternya? Kenapa musti STAN?" Bener juga sih ya.. Kenapa mesti STAN. Saya cuma bisa mengelus dada. Memang sedih banget almamater saya dikatain sekolah pencetak koruptor, tapi saya tidak mau berpendapat banyak, karena disini saya belum merasakan dunia kerja, jujur saja dan saya nggak munafik.
Yang penting sekarang saya dan teman-teman berusaha untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari STAN, itu tujuan utama saya. Tujuan kedua, biar nggak DO, ya ngerti kan, sekolah kami, nilai kecil aja udah kena DO. Bahkan menyontek aja, kalo dosennya nggak bisa selow, siap-siap angkat koper dari kos-kosan. Sedih banget kan, udah susah banget USM-nya (kata beberapa orang) dan jalur untuk masuk STAN cuma ada satu yaitu USM STAN.
Balik lagi ke masalah tadi.. Hmm, kalo ada yang menganggap STAN itu sekolah pencetak koruptor, sekarang gini aja lho.. Bukan masalah sekolahnya di STAN atau dimana. Saya yakin, baik di UI, Unair, UGM, STAN, BiNus dan universitas lainnya, nggak ada sekolah yang mengajarkan mahasiswa-mahasiswinya untuk koruptor, saya yakin 100% nggak ada. Dimana-mana sekolah itu mengajarkan siswanya pelajaran yang baik-baik kan? Jadi sekarang kembali pada individu masing-masing, manusia diberikan anugerah oleh Tuhan untuk memilih apa yang dapat mereka lakukan kan? Case closed kalo semua orang punya pandangan seperti ini.
Ya udah sih, kalo saya sudah memasuki dunia kerja dan benar-benar telah dihadapkan pada dunia yang sesungguhnya, dimana uang berkeliaran dan menggoda iman. Saya bakalan ingat-ingat, dulu saya sekolah dibiayain negara, berjuang mati-matian biar nggak kena DO, tidur jam setengah 3 pagi dan bangun subuh ketika musim ujian. Masa tega saya mengkhianati negara yang telah menyekolahkan saya. Itu prinsip saya nanti, bismillah saya akan membalas budi apa yang telah diberikan negara oleh saya. Keep your spirit STANers! Wherever you are :D
Semoga bermanfaat.
Nggak Ada Hubungannya Dengan Massa Elektron
'Kan sudah saya bilang, selagi saya sempat, selagi saya tidak repot dan tidak merasa direpotkan, selagi massa elektron masih 1,6 x 10 pangkat minus sembilanbelas; saya akan datang. Pada suatu hal apapun yang masih dalam jangkauan saya, apalagi bila menyangkut orang-orang terdekat dan terkasih. Karena disini saya belajar untuk menghargai sebuah pertemuan di setiap menit bahkan di tiap detiknya.
Epic Friends Are Epic.
Subscribe to:
Posts (Atom)


