Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Dosen Saya Kelewat Keren!

Mungkin dunia melihatnya begitu sempurna, diagungkan dan disegani. Apa yang diperbuat terlihat sangat etis. Tapi hati bisa menerobos lebih dalam dibanding dengan mata. Menemukan bahwa itu etiket, bukan etika.  Bungkus adonan etiket tebal dengan kemunafikan. Yang hanya hati yang bisa mendeteksinya. Jaga hati dan pikiran agar orang di sekitar kita tidak kecewa.

Selembar kertas menangis terinjak-injak pejalan kaki. Di atas sana ia melihat pesawat terbang yang begitu besar bisa terbang. Mengapa yang besar bisa terbang, oh mungkin karena bahan bakar. Ia mengolesi dengan bahan bakar, justru badannya jadi perih dan kaku. Ia juga melihat burung terbang. Oh mungkin karena bulu di sayapnya. Kertas menempeli dirinya dengan bulu. bukannya bisa terbang, justru badan semakin tidak nyaman. Kemudian ia melihat layang2 terbang. Mengapa kertas itu juga bisa terbang dan aku tidak? Ia bertanya pada layang2 dan dijawab. Kamu harus punya penampang bro... Tuhan sudah sediakan angin secara gratis.. 
Tapi kamu harus menyediakan penampang agar angin bisa menerbangkanmu. Seberapa penampang yang kita, manusia miliki? Sering kah kita memanfaatkan tiupan angin untuk mencoba meraih hal lebih baik? Ataukah kita terlempar oleh tiupan angin.. Sekedar bahan perenungan di akhir pekan ini. Selamat hari Minggu.

Status Tulus: Cintailah pasangan kita sepenuh hati, tidak perlu dipertanyakan lagi. Tidaklah berarti kalaupun ada kekurangan pada dirinya, karena toh kita juga manusia biasa yang tak sempurna.

Kebaikan yang kita lakukan dengan niat tulus belum tentu selalu mendapatkan apresiasi, sering kali malah ada yang memanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri. Apakah kemudian itu mengurangi makna kebaikan kita? Sama sekali tidak. Kebenaran akan muncul tepat pada waktunya. Wahai yang berhati lihatlah buah dari Roh, bukan hasutan orang. Saatnya akan datang mengawal kebenaran bagi pelaku kebaikan. Indahnya dunia ketika kebaikan diterima sebagai kebaikan. Ketika penyebar fitnah tidak ada yang percaya. Alangkah damainya dunia jika kita menjadi bagian dari kebaikan dan kebenaran.

Ciyuuuuss...Miapah? Masih mewarnai banyak perbincangan. Yakinlah ini musiman juga. Hanya saja mariiii kita cermati kata2 ini...bhs gaul sebelumnya adl sumpe loe... Demi apa? Kira-kira hampir samalah maknanya. Kembalikan ke ajaran agama masing-masing, apakah untuk meyakinkan sesuatu kita boleh bersumpah? Apakah kita berhak atas sehelai rambutpun? Apakah kita boleh bersumpah demi sesuatu yg atasnya kita tdk ada kuasa apapun..

Dikutip dari status-status Facebook Dosen Budaya Nusantara saya, Yohanes Supriyanto

Maaf, Saya Bukan Bermaksud Menggombali Anda

Kuharap kamu tidak geli ketika membacanya, meskipun ini sedikit memalukan setidaknya bagi diriku sendiri. Aku akan menceritakan seperti apa kondisi hati dan kepalaku saat ini.
Kepalaku serasa dipenuhi kabut merah muda saat kau mengajakku bertemu; ajakan kencan untuk pertama kalinya. Mencubit kedua pipiku sendiri mencoba untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Meskipun kamu terlihat memaksakan diri, karena aku tahu kamu baru saja datang dari perjalanan jauh. Dan entah kenapa malaikat di lengan kananku membiarkanku begitu saja menerima ajakanmu daripada menyuruhmu untuk beristirahat saja di rumah.
Aku sedikit menyesal tidak berada di rumah saat itu. Mempersiapkan apa yang akan kupakai di hadapanmu, mencari paduan yang tepat namun tidak berlebihan. Mempersiapkan kosakata apa yang akan kuulas bersamamu bila saja tiba-tiba lidahku kelu seperti kejatuhan sebongkah salju. Aku ingin merasa pas di depanmu.
Hari itu, untuk pertama kalinya aku mendengar melodi yang tercipta dari indera pengecapmu, memberitahu dimana keberadaanmu. Kututup telepon dan kulangkahkan kakiku, setiap langkahnya menujumu.
Jujur aku bingung saat itu. aku telah menemukanmu. Aku melihat punggungmu di hadapanku. Lagi-lagi aku menyesal tidak sempat menyiapkan kata sapaan yang cukup manis untukmu. Rasanya ingin berguru kepada pujangga untuk mengajariku bagaimana cara menyapamu.
Aku mencoba untuk tidak gugup dan mengatur denyut nadiku yang saat itu sudah seramai stadion sepakbola. Kutarik nafas dalam-dalam, kupunguti keberanianku yang sempat tercecer dan ya, aku berhasil menyapamu, meskipun sepertinya Shakespeare murka melihatku tak mampu menyusun kata sederhana dengan baik.
Kau mengajakku ke suatu tempat dan tak terasa kita sudah melumat waktu. Aku bercerita banyak kepadamu. Nampaknya kedua mataku juga menyukaimu, tak bisa sedetikpun kulepaskan pandangan darimu. Begitu juga mulutku, ia tak bisa berhenti berucap kata. Sesekali kamu bercerita dan aku mendengarkan. Sambil kuperiksa apakah kedua kakiku masih berpijak pada bumi ketika kamu menyuguhiku dengan senyum di antara kisahmu. Ingin kuculik tongkat sihir dari penyihir siapapun agar aku bisa menghentikan waktu. Mengurung kita di sini, seperti ini; terjebak bersamamu. Dan andai saja aku seorang Cinderella, akan dengan sengaja kujatuhkan sepatu kacaku, agar kau mengejar dan menemuiku kembali.
Hai kamu..
Yang telah berhasil membuatku merasakan seolah-olah ini kencan pertamaku sekaligus kencan paling indah sedunia.
Yang telah berhasil membuat penuh tabungan senyumku.
Yang telah berhasil membuat jutaan airmata serasa tak berguna.
Yang telah berhasil membangkitkan lagi rasa yang telah lama bunuh diri.
Mungkin kau tidak menyadari, kamulah alasan terciptanya senyum di wajahku hari ini.

Di Jarimu

Karya Bernard Batubara
Laksmi, di permukaan mataku kau menuliskan luka
Lalu memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata
Kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan
Sementara airmata sibuk mencari jalan pulang
Takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat
Aku tak mampu menulis di tanganmu
Sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian
Kita begitu hapal cara saling menemukan
Tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan

Di dadamu, ada tulisan yang tak pernah selesai
Tentang rinduh yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain
Jauh dari yang tak akan kembali
Jauh dari yang tak pernah terjadi


Di dadamu, ada tulisan yang tak pernah selesai
Tentang rinduh yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain
Jauh dari yang tak akan kembali
Jauh dari yang tak pernah terjadi

Jenuh

"Lah bukan. Aduh gimana ya ngomongnya? Saudari Manda, maukah kamu, bangun pagi ngeliat saya. Makan pagi eh ada saya lagi. Pulang kantor loh kok nongol muka saya. Sholat berjamaah imamnya saya. Kalau flu yang bikinin bubur encer saya. Pas lagi pms nggak ada yang bisa ditonjok, ya terpaksa nonjok saya. Kalau ngidam, yang beliin Magnum saya. Bagi tugas ganti popok sama saya.Nyuruh saya yang jawab, kalau anak-anak nanya pertanyaan jebakan kayak 'Mama adik bayi datengnya dari mana'. Diskusi mengenai pilihan universitas mereka sama saya. Lalu, skip skip skip, sampai nyabutin uban saya. Bikinin saya teh anget kalau masuk angin. Yah, semacam saya lagi, saya lagi setiap hari?"
Dikutip dari "Jenuh" - Taste Buds; Yunus Kuntawi Aji & Kinsia Eyusa Merry 

Rendezvouz




We met up, we hugged, we talked, we laughed, we cried, we sang, we helped each other. 
We were bestfriends, we are bestfriends and we will be bestfriends 

Payung Teduh - Rahasia

Tak ada sore dan udara menjadi segar
Tak ada gelap lalu mata enggan menatap
Tak ada bintang mati butiran pasir terbang ke langit
Tak ada fajar hanya remang malam semua tlah hilang, terserang matahari..

Harum mawar membunuh bulan 
Rahasia tetap diam tak terucap
Untuk itu semua aku mencarimu
Berikan tanganmu jabat jemariku
Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu
Berikan suaramu pada semua bisikanku
Memanggil namamu..

Atau kau ingin aku berteriak sekencang-kencangnya
Agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku

Ini rahasiaku
Tak ada gelap segelap jauh darimu
Tak ada terang yang seterang sinarmu
Tak ada lagi bintang mataku
Ketika bayanganmu menjauh, membentang
Kau buat rindu dan harapku melayang-layang
Kamu pernah menjadi senja menenggelamkan semua
Kini yang tersisa hanya aroma tawa
Yang tersisa hanya harum air mata
Lalu aku mencari suara, kuobrak-abrik namamu
Aku mencari wujudmu
Aku mencarimu
Aku mencarimu...

If you wanna download this song, click here :)

HAPPY BIRTHDAY!

Hey! I was turned into 20 on last Wednesday @(*^ェ^)@ Yap, 13tf of June ago I had my birthday. Of course, this number shows that I'm not a teenager again :| a lil bit sad.. But i'd like to say bunch of thanks and be grateful to God, Allah SWT for giving me times till now. So, I had a midnite-birthday-greeting-call from my boyfriend, i was sleeping when he called me. Fortunately, i could wake up from my sleep. He greeted me so well :) and made me smile in the middle of nite. Second, others of birthday greeting came from a lotta friends. Not only via sms but also via twitter and facebook. Couldn't handle it all at that time, because i had a Sunda Performance for Culture of Archipelago class to be shown in front of my friends and my lecturer. So, i was hectic at that time, prepared all the stuffs for our performance. But, before i went to the college, my parents and my lil brother had called me to say HAPPY BIRTHDAY! It was the best spirit ever :)


At college, exactly, after the performance, my lecturer asked to a whole friends to lead us singing "Happy Birthday" to me. And my friends suggested Raja and Raka to lead, LoL. My lecturer gave a chocolate for each of them. Then, we were singing together, it was touching moment :') hahaha. After that, my lecturer asked Raja and Raka to give their chocolate to me. It was a lil bit awkward and crowded of my friends' voices -__-


And la la la, i got some gifts from my close friends and my boyfriend. I really like gift and surprise >.< Here there are some pictures of them with edited.


A gift with shirt-design-large-sized from my boyfriend, a gift from my lovely deskmate when we were in first and second term, Frinda Puspa; a gift from my dearly roommate, Sandra :)

And also Alien-Doll from my new friend; Ryana; A medium sketch book with colouring pen from Sandra;  a black-white-design-hijab with super cute greeting board from Frinda Puspa ; a big orange-teddy bear from my bf ~(=^‥^)ノ
Other images from my birthday gifts ✖‿✖
Thank you berry mucho guys ♡ I hope God always gives the best for ur life, once again thank you thank you (〜^∇^)〜

Selamat Ulang Tahun Ibu


"Selamat ulang tahun Ibu..", ucapku di telepon pagi ini. Yah, Ibuku berulangtahun hari ini, genap empat puluh enam tahun sudah Beliau hadir di tengah-tengah kami.
Halo Ibu, ini pertama kalinya saya tidak dapat mengucap langsung empat deret kata tersebut kepada Ibu. Meskipun tahun lalu saya sudah mulai merantau, namun saya berkesempatan untuk pulang ke Surabaya dan dapat bertemu di hari spesialmu itu. Sungguh sangat menyenangkan dapat memeluk dan mencium Ibu di hari itu.
Ah Ibu, kali ini saya tidak memiliki kado spesial untukmu. Lagi lagi dan lagi. Saya ini payah, pacar yang baru saja menemani saya setahun terakhir ini, ribut-ribut saya beri kado, tetapi untuk orang yang sudah membuat saya hadir di dunia ini, saya tak bisa memberi apa-apa.
Saya ingat terakhir kali saya membeli kado untuk Ibu, sebuah jam tangan yang sampai saat ini melingkar di pergelangan tangan kananmu. Saya ingat, saya berdebat cukup lama dengan Bapak sebelum akhirnya kami berdua sepakat membeli jam tangan tersebut. Dan saya juga masih ingat ketika Ibu membuka kado dari saya dan Bapak, Ibu malah berceletuk, "Ah, lebih baik Ibu dikasih uang saja daripada dibelikan jam tangan, kan uangnya bisa Ibu buat beli baju..", ah Ibuku ini ada-ada saja.
Oh ya Ibu, tadi Ibu bercerita kalau seorang sahabatmu juga menelepon pagi-pagi hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Tante Tutik juga akan menjemput Ibu dan mengajak jalan-jalan bersama. Ah andai saja aku di Surabaya, aku juga tidak mau kalah dengan Tante Tutik, akan kuajak kemanapun Ibu mau. Ah, andai saja..
Maaf ya Bu, saya belum bisa memberikan yang terbaik buat Ibu. Entah itu IP/IPK, entah itu prestasi dalam bentuk lain. Tapi saya sudah berjanji pada diri saya sendiri, suatu saat nanti saya akan memenuhi janji saya tersebut. Cukup ridhai saya dan iringan doa tulus ikhlas dari Ibu.

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Ibu.
Semoga rahmat dan ridha Allah senantiasa mengiringi setiap langkahmu,
Semoga berkah dan kesehatan selalu melekat dalam batin dan ragamu,
Selamat ulang tahun wanita terhebat dalam hidup saya,
Selamat ulang tahun idola favorit saya,
Selamat ulang tahun orang yang paling mengerti saya, bagaimanapun keadaannya,
Selamat ulang tahun Ibu, saya sayang Ibu :)
Untuk Ibu sekaligus sahabat sejati saya dalam hidup ini.

Get Married!

"Menikah itu tidak hanya mempertemukan dua orang manusia, tetapi menikah itu mempertemukan dua keluarga. Kamu pikir menikah itu mudah? Menikah itu sulit dan butuh persiapan yang matang."
No no no, saya belum kepengen menikah kok. Ini hanya wacana, iya wacana. Jadi filosofinya adalah, saya juga tidk mengerti, tiba-tiba saja ingin melanjutkan postingan yang sempat tertunda beberapa hari karena menumpuknya tugas dan baru sempat hari ini untuk melanjutkannya.

Jadi begini, waktu itu saya sedang ngobrol berdua dengan salah satu teman saya di beranda depan rumah. Ngobrol-ngobrol biasa, becandaan gak penting hanya untuk sekedar membunuh waktu *ceilah*. Nah entah kenapa obrolan kami mendadak menjadi serius, "Pernikahan". Well oh well. Waktu itu kami berdua sama-sama sudah mempunyai pasangan, bedanya lawan bicara saya sudah menjalani hubungan yang lebih lama dibandingkan saya. Nah, dia merasa bahwa dia sudah, hmm apa ya istilahnya, kata orang Jawa sih sudah mentok, udah sreg dengan pasangannya. Ya sudah, saya nyeletuk, "Oke deh ditunggu ya undangannya pas lulus kuliah.." Dan dia menjawab celetukan saya dengan gaya ceramah Aa Gym.

Memang benar, menikah itu nggak gampang. Nggak segampang kamu move on ketika ditolak gebetanmu, nggak segampang kamu lulus ulangan harian fisika-nya Bu SM *oke yang ini songong, tampar saja saya*. Nggak, nikah itu nggak gampang, tapi ketika saya berkata seperti ini bukan berarti saya tidak ingin menikah. No no no, saya juga ingin merasakan hal yang paling sakral di dunia ini, guys. Menikah itu beda dengan pacaran yang dikit-dikit berantem, lima menit kemudian udah mesra-mesraan lagi, dikit-dikit cemburu, dikit-dikit selingkuh *lho*. Menikah itu menyatukan pemikiran antara dua manusia yang masing-masing datang dari latar belakang yang berbeda. Menikah itu dimana kamu meletakkan semua kepercayaanmu kepada pasangan yang nantinya menjadi teman dalam menjalani hidup.

Menikah itu bukan akhir dari perjalanan hidup, justru menikah adalah awal dari segalanya. Justru di situlah lika-liku hidupmu dimulai, mbaksist dan masbro sekalian. Laki-laki yang biasanya hanya mikiran rokok doang yang bisa dia isep,  setelah nikah dia pasti kepikiran "Aduh, bini gue ntar gue kasih makan apa ya?" atau "Njrit, gue lupa ini udah awal bulan!". Sedangkan bagi kaum hawa yang biasanya cuma bisa hedon shopping nyari diskonan dari satu mall meloncat ke mall lain, ntar bakalan mikir "Mamaaaa, ini dagingnya dicincang dulu ato dicemplungin ya?" atau "Sayang, itu kopinya udah disiapin di meja makan.." atau "Ini perut gue kok membesar gini ya? Gue gendut ya Allah, gue gendut!!" *itu hamil bego*. Nah, ribet kan. But, this is life. This is the art of life.

Maka dari itu, persiapkan masa depanmu dari sekarang. Jodoh! Carilah jodoh sedini mungkin, guys! Mengingat umur yang sudah mendekati kepala dua sungguh bukan hal yang main-main lagi untuk masalah percintaan. Seperti petuah dari Mama sahabat saya yang baru saja saya kunjungi beberapa minggu lalu, "Di usia se-kamu gini itu jangan cari pacar, tapi cari pendamping hidup.." *aduuh, beraat Tantee, beraat..*. Dan yang terpenting adalah, pernikahan itu cuma sekali seumur hidup, find the right person on the right place and time. Jangan sampai salah menentukan pilihanmu, karena seperti yang saya katakan di awal, pernikahan itu hal yang paling sakral di dunia ini.
Getting married is like permanently grafting your hand to the cookie jar. No matter how sweet those cookies may taste, you can't help but wonder what would have happened if you'd chosen some other dessert--brownies, for instance ... or frozen yogurt ... or maybe chocolate strudel.

The One Who Got Away

In life, you’ll make note of a lot of people. Ones with whom you shared something special, ones who will always mean something. There’s the one you first kissed, the one your first loved, the one you lost your virginity to, the one you put on a pedestal, the one you’re with… and the one who got away.
Who is the one that got away?
… all you know is that (one day) you’ve changed, and for some reason, the one that got away is the first person you think about. You’ll think about them because you’ll wonder, “What if she/he were here today?” You’ll wonder, “What if we were together now, with me as I am and not as I was?”
That’s what the one who got away is. The biggest what-if you’ll have in your life.
Because the very existence of “the one who got away” means that you’ll always wonder, what if you got that one? Ask him out for coffee; ask her out to a movie, it doesn’t matter if you’ve dropped in from out of nowhere. You’d be surprised, you just might be “the one who got away” as well for the person who is your “the one who got away.”
If the timing is finally right, it’ll all fall into place somehow, and it would be a great feeling, if in the end you’ll be able to say to someone, “Hey you, you are the one who almost got away.”

Kamu.

Aku tidak tahu waktu itu aku sedang berada dimana. Tapi aku bisa menggambarkan keadaan di sekelilingku waktu itu, ya, waktu itu. Beberapa kelompok manusia sedang berlalu-lalang, berjalan, berbincang satu sama lain, menenteng barang bawaan mereka yang sepertinya terlihat cukup berat. Sesekali mereka melepas tawa tanpa peduli menimbulkan bising di sekitarnya ketika ada salah satu di antara mereka yang melontarkan cerita lucu. Sesekali satu di antara mereka mencubit bahkan memukul keras pundak lainnya karena terlalu keras suara tawanya. Tanpa pedulu keadaan sekitarnya. Sepertinya mereka akan bepergian jauh dan sepertinya akan menjadi perjalanan yang cukup menyenangkan bagi mereka. Tapi tetap saja, aku masih belum mengerti, apa nama tempat dimana kakiku kupijakkan sekarang. Matahari mulai tidak malu memperlihatkan hampir semua auratnya ketika aku melihat dua anak kecil berpakaian lusuh, dekil dengan kaleng berdiameter sedang di kedua tangannya. Oh, mereka pengemis jalanan rupanya. Setelah ditolak mentah-mentah oleh seorang bapak tua dengan jenggot putih dan cerutu di tangan kanannya, dua anak kecil itu kemudian terduduk lesu, bersandar di tembok bangunan yang kelihatannya telah berumur lebih dari dua kali umurku. Aku merogoh kedua saku di celanaku dan tidak dapat menemukan apa-apa, ucapan maaf terlontar begitu saja dalam hati ini. Dan aku masih belum bisa menemukan, dimana aku sekarang ketika aku baru saja menyadari bahwa aku sedang berada di stasiun kereta. Oh pantas ramai sekali. Kutengok kanan, kemudian kiri, kemudian belakang. Maju beberapa langkah, mencari-cari orang yang bisa aku kenal. Aku hampir saja putus asa waktu itu dan kurebahkan saja badanku di sebuah kursi kayu tua yang tampaknya sudah mulai reyot. Diam. Diam dalam keramaian sebuah stasiun kereta. Dan pada akhirnya aku merasa bahwa seseorang sedang menduduki kursi kayu tua di ujung lainnya.

"Hei, sedang apa kamu di sini? Kau membuntutiku ya?", aku menemukan seorang laki-laki yang aku kenal sedang mengajakku bicara tiba-tiba.
"Bagaimana kau datang?"
"Jangan bohong, kau mengikutiku kan?"
Kemudian aku terdiam dan teringat. Semalam aku memutuskan untuk pergi ke kota ini untuk bertemu dengan dia, dia yang sedang berada di ujung lain kursi tua ini.
"Lebih baik kau balik saja, sini kubelikan tiket balik kalau kau mau, sepertinya kamu nggak membawa apa-apa kesini, kau kacau banget sih?"
Aku tersadar bahwa aku tidak membawa barang satupun malam itu, bodoh.
"Tidak, aku di sini saja, ada kamu."
"Aku? Aku sudah menetapkan untuk tinggal di sini, kota ini, aku suka sekali dengan kota ini."
"Bukannya kamu pernah bilang jangan sekalipun mengungkit kota ini di depan kedua matamu? Bukannya kamju pernah bilang jangan sekalipun mengungkit satupun kenanganmu di kota ini?", aku sedikit memberikan intonasi pada ucapanku barusan ini dan ketika mataku tiba-tiba menemukan plang yang bertuliskan kota ini.
"Itu dulu, aku sudah berubah pikiran, aku sudah memutuskan", itu kata-kata terakhir yang aku dengar dari seorang dia.
Jantungku mencelos. Dia bukan dia yang biasanya aku kenal, apakah aku salah orang?
Aku melanjutkan langkahku keluar menuju bangunan tua yang kemudian berpapasan dengan seorang kakek rua menggenggam erat jemari wanita di sebelahnya. Aku kembali tidak mengerti dimana aku berada, yang aku tahu hanyalah berjalan dan berjalan. Mungkin aku tak perlu lagi memerdulikan keadaan di sekitarku, mungkin aku tak perlu lagi memberikan kepercayaan berlebih pada seseorang, mungkin aku, mungkin aku..
Dan aku masih terus berjalan..

Istimewanya Seorang Wanita

Kaum feminis bilang susah jadi wanita (baca: muslimah), lihat saja peraturan dibawah ini:
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung Dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami Dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid Dan nifas yang tak Ada pada lelaki..

Itu sebabnya banyak yang berpromosi untuk“MEMERDEKAKAN WANITA”. and look..
1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman Dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak Akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang wanita.
2. Wanita perlu taat kepada suami. Bahwa sesungguhnya lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya.
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi bahwa harta itu menjadi milik pribadinya Dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya. Sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri Dan anak-anak.
4. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggungjawab kan terhadap 4 wanita, yaitu : isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya Dan saudara lelakinya.
5. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH!
Demikian sayangnya ALLAH pada wanita.
Ingat firmanNya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut/tunduk kepada cara-cara/peraturan yang diproduct.
Bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukumNya/peraturanN ya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan yang diproduct. Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.
Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya. Berbahagialah wahai para muslimah. Tunaikan dan menegakkan agamamu, niscaya surga menanti.
Semoga bermanfaat :)

Berawal dari bermain skipping..

Mencoba memperbaiki mood dengan mendengarkan lagu-lagu favorit Dimas Ario yang dulu pernah saya temukan di blog pribadinya. White Shoes and The Couples Company, Ode Buat Kota, Homogenic, Sore dan Monita Tahalea. Music bergenre tidak lazim seperti kebanyakan music yang ditayangkan di televisi. Mencoba menikmati dan memperbaiki mood.
 
Pagi terakhir di Surabaya sebelum nanti malam saya kembali merantau di ibukota, tidak terlalu menarik. Penginterogasian di subuh buta mengenai kuliah yang tentu saja sudah mencuri secuil senyum saya di pagi ini. Saya tahu, saya mengerti dan saya harap lawan bicara saya tadi juga mengerti bahwa saya sedang berusaha keras menjalani kewajiban saya. Dilanjutkan dengan mimpi yang sama sekali membuat saya menyesal memutuskan untuk melanjutkan tidur.

Bangun dari tidur, lagi-lagi secuil senyum saya raib begitu saya membuka pesan Blackberry Messenger dari seseorang. Hah, harusnya hari ini begitu indah dan terlalu sayang untuk dilewatkan, seharusnya. Seharusnya hari ini dilewatkan dengan banyak tawa bahagia, canda dan cerita-cerita lucu. Menyayangkan sekali dan membuat saya semakin tidak rela meninggalkan kota ini. Andai saya diberi bonus beberapa hari lagi untuk tinggal di kota ini, andai saja. Mungkin saya tidak akan segalau dan seresah ini. Mungkin. Sedikit.

Surabaya, 7 Januari 2012

Siang itu di dalam kamar..

"Puteri, sekarang Jakarta gerimis, cepat sekali berubah, kayak hati. Semoga pengertian, mau saling mengalah, saling menghargai, saling menjaga, komunikasi yang baik, dan tentu saja yang paling penting pemahaman agama yang baik menyertai rasa sayang. Biar abadi sayangnya. Tidak seperti cuaca."

Tere Liye dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu (via kuntawiaji)

Does Love Need A Reason?

Taken from kuntawiaji.tumblr.com


Lady: Why do you like me? Why do you love me?
Man: I can’t tell the reason, but I really like you.
Lady: You can’t even tell me the reason, how can you say you like me? How can you say you love me?
Man: I really don’t know the reason, but I can prove that I love you.
Lady: Proof? No! I want you to tell me the reason. My friend’s boyfriend can tell her why he loves her, but not you!
Man: Ok, Ok! Emm…because you are beautiful, because your voice is sweet, because you are caring, because you are loving, because you are thoughtful, because of your smile, and because of your every movements.

The lady felt very satisfied with the man’s answer. Unfortunately, a few days later, the lady met with an accident and went in comma. The Guy then placed a letter by her side, here is the content:

Darling, because of your sweet voice that I love you, now can you talk? No! Therefore I cannot love you. Because of your care and concern that I like you, now that you cannot show them. Therefore I cannot love you. Because of your smile, because of your every movements that I love you, now can you smile? now can you move? No! Therefore I cannot love you. If love needs a reason, like now, there is no reason for me to love you anymore. Does love need a reason? NO! Therefore, I still love you.

Jarak; A distance; Abstand


Jarak punya caranya sendiri untuk memberi kita waktu. Memberi kita ruang. Membuat kita melihat lebih jelas.
Terkadang kita perlu mendekat demi terekspos pada detail: derai hujan semalaman, aroma kopi yang tertinggal di udara, halusnya pasir dalam genggaman, pertemuan yang mendekati selesai, sebuah akhir. Terkadang kita perlu menjauh demi terpapar pada kenyataan: jalanan yang banjir akibat hujan seharian, cangkir kopi yang sudah lama kosong, sampah lengket yang menyangkut dekat garis pantai, kesempatan kedua, sebuah awal.
Tak mudah mengakrabi jarak. Ia hadir secara acak. Jauh-dekat hanya merupa garis-garis buram ketika dilewati dalam kecepatan maksimum. Ada saatnya kita tak tahu kapan harus menarik jarak, dan kapan harus melesak dalam. Ada saatnya kita tak tahu kapan harus memagari hati atau menitipkannya pada orang lain.
Tapi jarak adalah teman yang baik. Pelan-pelan, jarak mengajari kita bahwa sesuatu yang indah akan tetap indah, baik ketika dilihat dari jauh maupun ketika dilihat dari dekat.

time to release the balloons and watch them disappear again



Ketika kamu ingin melepaskan sesuatu, visualisasikan gambaran ini: ikatlah sesuatu yang ingin kamu lepaskan itu pada sebuah balon gas, kemudian lepaskan balon gas itu, dan saksikan ketika ia naik semakin tinggi ke langit dan akhirnya hilang dari pandanganmu.
Belakangan, saya merasa balon-balon saya mulai memenuhi ruang. Ia berceceran mulai dari kamar tidur, koper, kolong tempat tidur, meja belajar, jalan raya, sampai sudut hati. Jadi, malam ini, sudah saatnya saya melepaskan beberapa ke udara dan menyaksikan mereka naik, naik, naik terus… sampai hilang dari pandangan.
We can’t have everything we want. Dan saya masih belajar pelan-pelan, untuk bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Sulit, memang. Dan mungkin masih akan selalu ada sedikit air mata yang tumpah. Tapi tak apa. Esok mungkin masih menawarkan kejutan-kejutan yang akan membuat saya tertawa bahagia.
Yang penting saya sudah menyediakan ruang. Ruang untuk balon-balon baru yang masih akan berdatangan dari waktu ke waktu.

Sejenak teringat Fisika, Biologi dan Kamu.

Kita adalah semacam bioluminescence dalam garis-garis kehidupan yang saling bersilangan. Kadang cahayamu remang, cahayaku terang. Atau sebaliknya. Dalam gelap, kita saling mencari secercah masing-masing. Memicingkan mata pada rindu yang membuncah dan membuat kita resah.

Aku bergerak secara oscillasi menujumu. Cinta kita adalah semacam polarisasi optik terhadap silang emosi yang tarik-menarik. Semua yang indah akan nampak seperti titik-titik cahaya yang kau lihat dari balik pelupuk mata yang basah. Semuanya seperti pecah sekaligus rekat. Seakan jauh sekaligus dekat.

Kita tunduk pada hukum Snellius: seperti sudut datang dan sudut bias pada cahaya yang melalui batas antara dua medium isotropik berbeda. Kamu. Dan aku. Di tengahnya, ada kita.


NB: Penulis terinspirasi karena sedang mengalami kerinduan yang sangat akut terhadap dua mata pelajaran tersebut.