Showing posts with label Random. Show all posts
Showing posts with label Random. Show all posts

Get Married!

"Menikah itu tidak hanya mempertemukan dua orang manusia, tetapi menikah itu mempertemukan dua keluarga. Kamu pikir menikah itu mudah? Menikah itu sulit dan butuh persiapan yang matang."
No no no, saya belum kepengen menikah kok. Ini hanya wacana, iya wacana. Jadi filosofinya adalah, saya juga tidk mengerti, tiba-tiba saja ingin melanjutkan postingan yang sempat tertunda beberapa hari karena menumpuknya tugas dan baru sempat hari ini untuk melanjutkannya.

Jadi begini, waktu itu saya sedang ngobrol berdua dengan salah satu teman saya di beranda depan rumah. Ngobrol-ngobrol biasa, becandaan gak penting hanya untuk sekedar membunuh waktu *ceilah*. Nah entah kenapa obrolan kami mendadak menjadi serius, "Pernikahan". Well oh well. Waktu itu kami berdua sama-sama sudah mempunyai pasangan, bedanya lawan bicara saya sudah menjalani hubungan yang lebih lama dibandingkan saya. Nah, dia merasa bahwa dia sudah, hmm apa ya istilahnya, kata orang Jawa sih sudah mentok, udah sreg dengan pasangannya. Ya sudah, saya nyeletuk, "Oke deh ditunggu ya undangannya pas lulus kuliah.." Dan dia menjawab celetukan saya dengan gaya ceramah Aa Gym.

Memang benar, menikah itu nggak gampang. Nggak segampang kamu move on ketika ditolak gebetanmu, nggak segampang kamu lulus ulangan harian fisika-nya Bu SM *oke yang ini songong, tampar saja saya*. Nggak, nikah itu nggak gampang, tapi ketika saya berkata seperti ini bukan berarti saya tidak ingin menikah. No no no, saya juga ingin merasakan hal yang paling sakral di dunia ini, guys. Menikah itu beda dengan pacaran yang dikit-dikit berantem, lima menit kemudian udah mesra-mesraan lagi, dikit-dikit cemburu, dikit-dikit selingkuh *lho*. Menikah itu menyatukan pemikiran antara dua manusia yang masing-masing datang dari latar belakang yang berbeda. Menikah itu dimana kamu meletakkan semua kepercayaanmu kepada pasangan yang nantinya menjadi teman dalam menjalani hidup.

Menikah itu bukan akhir dari perjalanan hidup, justru menikah adalah awal dari segalanya. Justru di situlah lika-liku hidupmu dimulai, mbaksist dan masbro sekalian. Laki-laki yang biasanya hanya mikiran rokok doang yang bisa dia isep,  setelah nikah dia pasti kepikiran "Aduh, bini gue ntar gue kasih makan apa ya?" atau "Njrit, gue lupa ini udah awal bulan!". Sedangkan bagi kaum hawa yang biasanya cuma bisa hedon shopping nyari diskonan dari satu mall meloncat ke mall lain, ntar bakalan mikir "Mamaaaa, ini dagingnya dicincang dulu ato dicemplungin ya?" atau "Sayang, itu kopinya udah disiapin di meja makan.." atau "Ini perut gue kok membesar gini ya? Gue gendut ya Allah, gue gendut!!" *itu hamil bego*. Nah, ribet kan. But, this is life. This is the art of life.

Maka dari itu, persiapkan masa depanmu dari sekarang. Jodoh! Carilah jodoh sedini mungkin, guys! Mengingat umur yang sudah mendekati kepala dua sungguh bukan hal yang main-main lagi untuk masalah percintaan. Seperti petuah dari Mama sahabat saya yang baru saja saya kunjungi beberapa minggu lalu, "Di usia se-kamu gini itu jangan cari pacar, tapi cari pendamping hidup.." *aduuh, beraat Tantee, beraat..*. Dan yang terpenting adalah, pernikahan itu cuma sekali seumur hidup, find the right person on the right place and time. Jangan sampai salah menentukan pilihanmu, karena seperti yang saya katakan di awal, pernikahan itu hal yang paling sakral di dunia ini.
Getting married is like permanently grafting your hand to the cookie jar. No matter how sweet those cookies may taste, you can't help but wonder what would have happened if you'd chosen some other dessert--brownies, for instance ... or frozen yogurt ... or maybe chocolate strudel.

Kamu.

Aku tidak tahu waktu itu aku sedang berada dimana. Tapi aku bisa menggambarkan keadaan di sekelilingku waktu itu, ya, waktu itu. Beberapa kelompok manusia sedang berlalu-lalang, berjalan, berbincang satu sama lain, menenteng barang bawaan mereka yang sepertinya terlihat cukup berat. Sesekali mereka melepas tawa tanpa peduli menimbulkan bising di sekitarnya ketika ada salah satu di antara mereka yang melontarkan cerita lucu. Sesekali satu di antara mereka mencubit bahkan memukul keras pundak lainnya karena terlalu keras suara tawanya. Tanpa pedulu keadaan sekitarnya. Sepertinya mereka akan bepergian jauh dan sepertinya akan menjadi perjalanan yang cukup menyenangkan bagi mereka. Tapi tetap saja, aku masih belum mengerti, apa nama tempat dimana kakiku kupijakkan sekarang. Matahari mulai tidak malu memperlihatkan hampir semua auratnya ketika aku melihat dua anak kecil berpakaian lusuh, dekil dengan kaleng berdiameter sedang di kedua tangannya. Oh, mereka pengemis jalanan rupanya. Setelah ditolak mentah-mentah oleh seorang bapak tua dengan jenggot putih dan cerutu di tangan kanannya, dua anak kecil itu kemudian terduduk lesu, bersandar di tembok bangunan yang kelihatannya telah berumur lebih dari dua kali umurku. Aku merogoh kedua saku di celanaku dan tidak dapat menemukan apa-apa, ucapan maaf terlontar begitu saja dalam hati ini. Dan aku masih belum bisa menemukan, dimana aku sekarang ketika aku baru saja menyadari bahwa aku sedang berada di stasiun kereta. Oh pantas ramai sekali. Kutengok kanan, kemudian kiri, kemudian belakang. Maju beberapa langkah, mencari-cari orang yang bisa aku kenal. Aku hampir saja putus asa waktu itu dan kurebahkan saja badanku di sebuah kursi kayu tua yang tampaknya sudah mulai reyot. Diam. Diam dalam keramaian sebuah stasiun kereta. Dan pada akhirnya aku merasa bahwa seseorang sedang menduduki kursi kayu tua di ujung lainnya.

"Hei, sedang apa kamu di sini? Kau membuntutiku ya?", aku menemukan seorang laki-laki yang aku kenal sedang mengajakku bicara tiba-tiba.
"Bagaimana kau datang?"
"Jangan bohong, kau mengikutiku kan?"
Kemudian aku terdiam dan teringat. Semalam aku memutuskan untuk pergi ke kota ini untuk bertemu dengan dia, dia yang sedang berada di ujung lain kursi tua ini.
"Lebih baik kau balik saja, sini kubelikan tiket balik kalau kau mau, sepertinya kamu nggak membawa apa-apa kesini, kau kacau banget sih?"
Aku tersadar bahwa aku tidak membawa barang satupun malam itu, bodoh.
"Tidak, aku di sini saja, ada kamu."
"Aku? Aku sudah menetapkan untuk tinggal di sini, kota ini, aku suka sekali dengan kota ini."
"Bukannya kamu pernah bilang jangan sekalipun mengungkit kota ini di depan kedua matamu? Bukannya kamju pernah bilang jangan sekalipun mengungkit satupun kenanganmu di kota ini?", aku sedikit memberikan intonasi pada ucapanku barusan ini dan ketika mataku tiba-tiba menemukan plang yang bertuliskan kota ini.
"Itu dulu, aku sudah berubah pikiran, aku sudah memutuskan", itu kata-kata terakhir yang aku dengar dari seorang dia.
Jantungku mencelos. Dia bukan dia yang biasanya aku kenal, apakah aku salah orang?
Aku melanjutkan langkahku keluar menuju bangunan tua yang kemudian berpapasan dengan seorang kakek rua menggenggam erat jemari wanita di sebelahnya. Aku kembali tidak mengerti dimana aku berada, yang aku tahu hanyalah berjalan dan berjalan. Mungkin aku tak perlu lagi memerdulikan keadaan di sekitarku, mungkin aku tak perlu lagi memberikan kepercayaan berlebih pada seseorang, mungkin aku, mungkin aku..
Dan aku masih terus berjalan..

Beauty and The Beast

Actually I dont even know what I want to write for this post. I just sitting in my own room, eating some snacks (yes, it will increase my weight) and such a walk-blogging. My nephew has just left from here *thankies a lot for last nite dinner at Galaxy Mall, haha*
I just realized that soon i'll back to Jekardah, between happy and sad. Happy because i'll meet with my college and all stuffs about it, sad just because i must leave my lovely hometown, even i didn't get much happiness in here *sigh*.
I had so many problems here, but i won't tell about it in my own site, i think that it's too privacy to share to. But one but the worst of my problems is i had so many pimples in my face. I know that it's been so looong i suffered with it. But this is the worst ever. My mooma suggested me to go to beauty clinic and i did. My boyf took me there, it's been a week but i haven't seen the result. And now I'm freaking out, it really driving me mad. Sad :( I hope i can recover from this disease (what? disease?) because i'm a lady who wanna have a beautiful face just like Princess Belle *lalala~~ LoL.

When Past Met Present

Hey! It's been 2 weeks here, in my hometown, Surabaya. I'm here for term holiday or they called it liburan semester. And it stays the same, I enrolled at university that has vastly different schedules with other universities. In other words, when other universities on vacation, I'm still undergoing tests. And vice versa. So, my friends are busy with their stuffs in colleges, starting their new term, yes they were just going started. Poor me, don't have friends to play with.
And me here, in front of my notebook, writing, browsing and waiting for blackberry messenger from someone out there. I dreamt a dream last nite. Such a random dream, i think, what a random. I dreamt of hmm I mean in my dream I met with people from my past and my present simultaneously. It was awkward. This is the story, my dream.
I was going to such a, maybe a modern market or plaza or whatever it called with someone in my present, it'll be easier if I call "someone in my present" as "person 1". Person 1 accompanied there, and hey... Person 1 looked so so different there, i mean, person 1 was more interest look in my dream! After that, we gotta out there and continued our trip to foodcourt. While we were walking, suddenly i looked someone in my past (i called it person 2). Olala~ I looked at person 2 and friends. Maybe person 1 was surprised with change of my face expression, "Hey, what are you looking for?" "Hmm, nothing, just, I think that now I'm looking at someone in my past.." "Was he your someone special?" "In my past, past" "Okay, let's turn away, we have to look for another way" 
And the world seemed to stop spinning for a while..
Person 1 kept holding my hand, took me to other way to get to the foodcourt. I didn't even know, what person 1 was thinking about at that time. Random. And suddenly, the dream dissapears, don't know where. It became other dreams..
I met Person 3, Person 1's past. It's getting weird. I just saw person 3, I was not involved in that case, I just saw and realized that hey I was looking at you.
In this morning, 8.52 am, still have no idea about my dream last nite. I don't have any idea why do God bring together my past, my present and also his past, eventhough in my dream. *sigh*

This Is Sad. Truly Sad.

My notebook charger broke (again). This Is Sad :( I don't even know why did this happen again. And severity, this is my second charger (my popp was bought it about last September and NEW) :(
I cant do my assignment as well as usual. I cant write in my own blog. I cant browse and do everything i can normally do with. *SIGH*
Therefore, i borrow my roommate's notebook to do my assignments. And i reaaaally reallly dunno, recently days, i got so maaanyyyy assignments to be completed. It ruins me! Oh my gee..
These conditions is compounded with ehmm.. A problem. Suck. Epic. But now, I've handled it and i swear i wont take it serious. *fingercrossed*
And i'm sure, an issue that comes to me will make me more mature level as well, amen.


3 Agustus 2010
Pengumuman USM STAN 2010


3 Agustus 2011
UAS terakhir Semester II Administrasi Perpajakan

Is it a sign?

Menutupi, Tersembunyi.

satu masa , berputar dalam relung ruang.
tanpa titik henti . mungkin akan selalu seperti itu .

pernah mencoba untuk berhenti, tapi tidak berarti .
oke, saya melanjutkan perjalanan tanpa kepastian ini.

menapaki langkah demi langkah . mencari butir-butir makna yang bersembunyi .
bersembunyi dibalik riuhnya kondisi .

aku mencoba mengikutimu .
mengendap-endap di balik bayanganmu .
tapi kamu menghilang . aku gagal .
mungkin kali ini lebih tenang . sudah faham .
akan ada yang lebih bergejolak . mungkin . nanti . tak tau .

entah . entah . entah .
hanya kamu yang bisa menghentikan .
aku hanya berperan . tak akan pernah segan .
tak akan pernah lelah untuk mengejarmu .
mengejarmu dengan caraku .
caraku yang hanya berani bersembunyi dibalik rasa . tanpa terucap kata .

hei! aku menikmati senyumanmu .
aku mengagumimu . tanpa kamu tau .
unik , memang :[

aku menunggumu . menunggumu menghentikan aku yang masih berlari .
mencari ruang kosong dihatimu .
menunggumu memberi titik henti dalam perjalananku .
perjalanan tanpa kepastian ini .
kepastian tanpa tuntutan . itu hatimu .
aku menunggu . disini .
ditemani kondisi yang siap menertawakan .
mungkin akan selamanya seperti ini . mungkin . tidak tau .



Penyair muda berbakat yang saya kagumi, Oki Erwina Pianisia.

Anak Udik di Ibukota Part 3

Dan ini sepertinya bagian akhir dari tulisan gue "anak udik di ibukota". Jujur aja sebenernya males nulis, tapi kok kayaknya nggantung kalo ditingggalin gitu aja. Ceritanya masih banyak, haha.

Jadi, singkat cerita aja ya, intinya kita memberanikan diri untuk berpartisipasi dalam acara Food Tasting Festival (baca: makan gratis). Intinya kami makan gratis, makan ampe gila kayak gak pernah dikasih makan enak bertahun-tahun, okeh bayangin sendiri.
Ya namanya anak udik yang dapet makanan gratis, kita tuh berasa kayak abis kejatuhan durian montong yg guedee banget. Rejeki banget kita bisa nemuin festival itu, padahal niatnya mau sholat Ashar, ketunda deh setengah jam.

Setelah asik ngisi perut, kami gak lupa buat mengucap syukur pada-Nya. Oke, kita langsung capcus nyari musholla. Lumayan sulit juga sih, soalnya GPS kita udah pulang duluan. Tapi kita punya inisiatif dong buat tanya ke Pak Satpam. Nemu deh tuh musholla, akhirnya kita solat Ashar, tanggung waktunya, kita tunggu Magrib sekalian di sana.

Abis Magrib-an, kita pulang. Naik busway trus lanjut naik taxi dari Blok M, waktu itu langit udah gelap banget. Gue paling menikmati pemandangan kota Jakarta pas gue lagi di atas jembatan layang. otomatis gue bisa ngeliat kerlap-kerlip lampu Ibukota dari atas, bagus banget. Mungkin itu alasan yg dibuat para fotografer mengabadikan momen-momen indah itu di atas jembatan layang. Sayang aku gak bisa ambil gambarnya :")

Inti yg bisa gue ambil dari perjalanan gue hari itu adalah, gue lihat Jakarta yg sesungguhnya. Dimana setiap kamu lihat sekelilingmu adalah makhluk-makhluk ber-BB ber-behel dan ber-ber lainnya. Dan gue lihat itu sendiri, setelah beberapa bulan lalu gue cuma denger hal itu dari mulut seorang temen. Oh, ini ya Jakarta, dimana bocah tengil yg ngomong aja masih belum fasih udah pegang BB, bahkan nutul-nutul apel growak. Oh My..
Kalo di Surabaya, gampang banget bedain org Jawa sama nonJawa. Kamu cari aja yg make bajunya gak bener, itu pasti bukan Jawa. haha. Gak gitu juga sih. Jalan jalan di Mall-mall Jakarta cuma bikin lo ngiri kalo lo gak punya duit, liat kiri liat kanan orang-orang pada modis dan cantik. Bandingin aja sama gue yg asal comot baju, haha.

Yak, itulah secuil pengalamanku di ibukota. Mungkin lain waktu aku bisa sharing lagi.
(hmm, lagi gak mood nulis) -________________-

Anak Udik di Ibukota (Part 2)

Akhirnya gue jadiin 2 part aja, udah kyk film aja deh, krik.

Kita akhirnya antre. Jadi, Magnum Cafe punya dua antrean, satu antrean for Take Away, satunya lagi for Dine In. Awalnya kita tuh ngira yg antreannya ngujubile gilanya tuh antrean yg for Take Away. Eh ternyata, kenyataan emang selalu pahit ya, hiks. Justru lebih gila antrean yg Dine In. Hmm, ternyata masih banyak orang normal di sekeliling gue lah.
Kira-kira sejam kita antre. Sedihnya, dandanan kita mulai luntur termakan oleh kringat dan peluh ini. Tince yang tadinya semangat banget, udah mulai lesu dan gak kedengeran "Cyiin" nya. Pojoh yg tadinya tebar pesona sana sini berharap ada yg mohon-mohon minta tandatangan sudah mulai menekukkan wajah. Melly yg tadinya sibuk moto-moto udah mulai ngucapin "Y U No Y U No move oooonnnn" dan aku sama Sandra mulai gerah dan berusaha mbuka jilbab *lhoh?

Tapi, selama di antrean, ada beberapa hal yg cukup menarik. Jadi, kita disusun dalam suatu barisan yg dibatasi oleh garis apalah namanya. Tiap beberapa menit sekali ada Kakak cantik menggunakan gaun yg senada dengan warna Ice Cream datang ke antrean dan berkata:
"Ada yg dua orang? Dua Orang?", sambil menyibakkan rambutnya yg indah (sumpah iri deh akyuu TT )
Selain itu, kita juga dihibur dengan pemandangan makhluk-makhluk yg telah berhasil melewati rintangan antrean yang kini menikmati tiap gigitan Magnum. Uwooooo, whatalife!

Akhirnya sejam berlalu, SEJAM. Kita akhirnya bisa masuk, HORE!!
Girang banget deh.
*

Setelah membolak-balik buku menu, yang intinya kita bingung mau pesen apa. Tapi, gimana-gimana kita harus milih mau pesen yg mana, karena inti dari hidup adalah memilih. :haha
Sandra, Pojoh dan aku memutuskan memesan salah satu menu yg bisa dibilang paling "wah" disana.
Yap, Jewel Crown! Menu yang berbandrol 55ribu ini memang terlihat paling WOW di antara menu lainnya. Ya gimana gak WOW, orang bentuknya paling gede gitu. Mantep lah pokoknya.
Mirisnya, kita berlima pada gakpesen minum. Bukannya pelit, tapi gak tega aja minum air mineral yang harganya 8ribu segelas. Gak tega banget hihi :p

Akhirnya setelah menunggu beberapa menit. pesenan kita berlima datang. Nyanyanyaaa~
Saatnya menikmati Magnum..
Sebelumnya sih, kita foto-foto dulu sama tuh EsKrim, duh udik banget yak?

Sekitar 1jam kita menikmati hidangan masing-masing, kita memutuskan untuk cabut. Yuk, lanjut lagi.
Dan syoknya gue, antrean for Dine In makin parah aja gelaaaakk.. Gue gak mbayangin deh kalo gue ada di barisan paling belakang dan mesti nunggu berjam-jam buat masuk ke tuh kafe. Ya Allaaaahhh, gue bersykur banget udah bisa masuk dan ngicipin menu di situ.

Oke lah, kita cao. Jalan-jalan menelusuri foodcourt yg ada di situ. Gue akuin emang arsitekturnya hebat banget bisa ndesain kayak gitu. Jadi, tiap lantai memiliki tema dan gaya tersendiri. Ada yg bertema Chinesse, ada juga yg bertema Pop Art, sampe sampe di pintu toilet cewek ada foto Marylin Monroe. haha.


Waktu itu jam udah menunjukkan angka satu, waktunya sholat Dhuhur. Kita berempat sholat dulu. Yg gue seneng dari musholla dan toilet di mall-mall Jakarta adalah: BERSIH dan GRATIS.
Gue sebel sama mall di Surabaya, udah ditarikin duit, ya gak mahal sih, cuma seribu doang, tapi kan lumayan buat beli pempek abal-abal hehe. Dan belum tentu toiletnya bersih. Bersih di sini maksud gue, bersih dalam arti sebenernya dan ada airnya, capslock ADA AIRNYA. Ya seenggaknya kalo emang males nyediain air ya paling nggak sediain tissue lah, masa gak cebok sama sekali? -_________-
Yang kedua, mushollanya. Musholla di Jakarta tuh eksklusif banget. Bersih, luas dan ada penjaga yg buat nitipin sepatu gitu, dan yang pasti bisa nyewa mukenah dan mukenahnya gak bau.
Ya gimana ya, namanya kan juga tempat ibadah, mestinya harus dirawat dengan baik. Biar yg ibadah tuh makin rajin ibadahnya, haha. Kalo tempat buat sholat aja kotor, males kan mau sholat..:curhat

Lho kok jadi ngomongin toilet sama musholla?
Oke deh balik ke Grand Indonesia.

Selesai sholat, kita memutuskan untuk cari makan (gratis). Ya gini ini ya, namanya orang udik yg berusaha g4ho3L, mau makan aja ribetnya seperempat mamfus. Muteeer aja gak selesai-selesai. Awalnya kita mau makan sushi, berhubung kita tahunya sushi dengan harga terjangkau hanyalah sushi tei, oke kita cari.
Cari cari cari.. Di West mall gak ada, oke lah tembus sampai East Mall, juga gak ada.
Akhirnya lama-lama kesel juga deh, ujung-ujungnya gue beli Doner Kebab! F*ck yeaa.
Jauh-jauh ke GI cuma beli DK T________T

*


Perut kita berlima kayaknya udah penuh dengan makanan yg kita santap tadi. Kami (terpaksa) melanjutkan perjalanan tanpa Pojoh karena dia mesti manggung di Gereja (nah lho). Nggak, jadi si Pojoh ada Gereja jam 5 sore, jadi dia mesti cabut duluan.
Berempat doang. Lanjut ke Plaza Indonesia.
Yap, kita berempat lanjut ke Plaza Indonesia yang tinggal nyebrang aja kesananya. Gak beda jauh juga sama GI yg dipenuhi dengan toko-toko mewah yg pasti harga jual barabg-barangnya jutaan ngujubile. Okey, great, gue mupeng. Kapan ya Zara dan LV jadi tempat langganan belanja bulanan gue?
"Bisa kok Em, bisa kok. Pasti beberapa tahun lagi lo bakal mborong tas dan sepatu dari LV"
Tuh hati kecil aku yg bicara. Tapi aku yakin kok, suatu saat nanti aku bakal keluar masuk LV, Zara dan antek-anteknya. HAHAHA.

Kalo anak udik ke mall-mall gede, ujung-ujungnya gak bakalan beli apa-apa. Emang gitu kan? Lagian, apa coba yg bisa aku beli dengan isi dompet yg mengenaskan ini? Paling cuma makan doang sih, itupun makanan dengan harga yg "waras" buatku. Kita cuma muter-muter di PI, liat-liat ada apa aja di sana. Dan sempet masuk ke aksara, liat-liat buku,liat-liat barang-barang aneh yg dijual dengan harga yg "gak wajar".
Iya, bagiku itu gak wajar. Kenapa notes yg kegunaannya cuma buat nyatet dan akhirnya dibuang kalo habis bisa berharga 150.000? Kenapa bolpen yg cuma buat nulis dan tintanya gakbisa di-refill harganya bisa 45.000? Jadi kesimpulannya, kalo ke aksara, ngeliat barang yg lucu-lucu dan emang lo gak niat beli barang itu, gak usah nengok harga barang itu berapa. Dijamin :matabelo deh --"

Dan gue heran, kenapa Tince beli Reader's Digest. Yg gue tahu, majalah itu cuma buat pas pelajaran Bahasa Inggris doang. Kan matkul Bhs Inggris udah abis, nah ngapain Tince beli itu?
Itu gue herannya, nih anak emang bule banget. (gak nyambung ya?)

Waktu itu udah sore, udah jam 5 dan kita belom sholat Ashar. Kafir banget kesannya.
Oke deh, kita mutusin buat cari musholla. Karena kompas kita udah pulang duluan (baca: Afgan KW 13), kita agak bingung nih dimana letak musholla.
Well, kita asal turun eskalator aja, punya feeling kalo musholla ada di bawah. Yap yap.
Kita turun turun.. Hmm, dimana ya??
Gak nemu-nemu..
Dan ketika kita di lantai berapaa gitu, kita nemuin sekelompok orang lagi beramai-ramai. Dan otomatis kita berempat heran. Seperti kata peribahasa, "Dimana ada gula, pasti ada semut"
Kita pun menghampiri keramaian tersebut. Yang pertama gue lihat, ada beberapa meja dengan makanan di atasnya. Hmm, makanan, makanan.
"Eh, ada apaan tuh? Makan-makan yak?"
Mungkin telinga kita udah peka kali ya sama kata "makan-makan" , langsung aja kita berhenti, merhatiin orang-orang itu. Dan kita juga sempet denger:
"Ayo silahkan daftar saja dan anda langsung dapat kupon untuk makan gratis disini"
"Eh gratis lho.."
"Seriusan?"
"Baik banget ngasih gratisan, coba yuk"
"Ah kamu aja dulu yg coba, beneran gratis?"
Aku dikit ragu, takutnya ntar udah makan, eh ujung-ujungnya ditarikin uang.
Oke lah, akhirnya kita nekat, yo iki jenenge arek Suroboyo, nang endi endi kudu nekat, HAHAHA


Anak Udik di Ibukota (Part 1)

Ini hari Senin (anak TK aja ngerti lah kalo hari ini hari Senin) --a

Nggak, gue mau cerita sedikit soal long journey gue kemarin *halah.

Jadi, begini ceritanya..
Waktu itu hari Jumat, dan aku sedang terjebak dalam keramaian orang-orang yang meraung-raung minta makan (baca: syukuran Himasurya 2011). Ya ngertilah, sebelum acara "utamanya" dimulai, pasti ada sambutan ini itu, biar berasa resmi aja. Di tengah keributan hiruk pikuk arek-arek suroboyo, tiba-tiba datang sekelompok anak yang aku kenal, yap, Melly, Icha dan satunya lagi gue lupa. Melly langsung sendu aja di sebelah gue.

Perut mulai lapar, gue yang notabene sengaja mengosongkan perut demi nasi tumpeng gratisan mulai bete dengan segala keributan yang semakin menjadi-jadi. Apaan sih ini? Mana tumpengnya? Keluarin woi!
Bonita gue keluar.
Makhluk hidup di sebelah kanan gue tiba-tiba nyeletuk, "Eh, Su, diajak Tince ke Magnum Cafe tuh"
Agak butuh waktu lama untuk mencerna kalimat di atas.
"Magnum Cafe, Magnum Cafe, it means.. Grand Indonesia, GRAND INDONESIA"
Ya gimana ya.. Aku, yg notabene tinggal di Bintaro yg notabene masih desa meskipun Jakarta, yg notabene mallnya cuma ada satu. Excited banget.
"Eh mau dong aku ikutaan.."
"Yo ayo, tapi aku gk tau jalannya dan naik apa kesana.."
Gue diem lagi, mikir lagi.. Grand Indonesia itu di Bunderan HI, itu di pusat. Gila aja kalo dari PJMI ke GI naik Taxi. Jebol lah dompet kita. Tiba-tiba gue ingat salah satu temen gue yg ngerti daerah sini sampe-sampe gue sebut "Kompas" kalo gak ya "GPS", yap! Dia adalah makhluk Tuhan yg memiliki akun twitter @chrispojoh , peranakan Palembang dan Manado yg agak sedikit mirip dengan Afgan (pasti lagi kegigit noh lidah dia).
Singkat cerita, gue sms dia, tanya ke dia. Belum sempet gue bales smsnya, eh dia sms lagi.
"Eh mau doong ke GI, ikutaaaan..."

Singkat cerita (lagi) akhirnya jam 10 pagi kita (Tince, Melly, Sandra, Pojoh, aku) berangkat. kita ketemuan di  GKI. Setelah kumpul, kita naik Taksi. Taksi Express lah, udah langganan, paling pewe lah buat anak kos macem kita.
Di perjalanan gue udah mbayangin yg nggak-nggak tentang Magnum Cafe. Kayak apa ya disana, asik gk yaa? Enak gak ya?
Akhirnya, sekitar sejam di taksi, kita sampe di Blok M. Kita nglanjutin perjalan pake jasa Busway yg katanya suatu sistem transportasi baru untuk mengatasi masalah klasik ibukota. Percaya gk percaya, ini pertama kalinya aku naik Busway setelah kurang lebih 6 bulan tinggal di ibukota. Yap, cuma dengan 3500 perak.

Kita mulai antre. Lumayan rame, karena itu hari Minggu.
Kurang lebih 15 menit kita nunggu, akhirnya ada Bus kosong yg berhenti. Karena rame, gue agak parno sendiri kalo misalnya di antara kita berlima ada yg kepisah. Gak lucu! Maka dari itu, kita berlima mesti keep in touch each other *hueeek.
Dan parno gue kayaknya bener-bener kejadian. Si Tince, bulu wannabe yg kita punya dan satu-satunya di Cempi, hampir aja gk bisa masuk Bus. Tapi karena dia bule dan dia bonek (apa hubungannya?) dia akhirnya bisa masuk. Tapi...
"BEGO LO!!"
Yak, sebuah kalimat yg (gak) manis terlontar dari mbak-mbak yg gak manis juga. Apaan sih nih mbak? Gak bisa sante aja napa? Namanya juga di halte, mesti lah lo kesenggol, mau sepi? Ya naik mobil pribadi aja.
Otomatis, si bule Tince jadi penumpang terakhir yg naik ke Bus. Dan waktu pintu bus nutup, gue agak kaget juga sama Afgan KW 13 ini.
"COOOK!!"
Huakakakakkk.. otomatis aku yo ngguyu. Sumpah lucu soro, aku kaget gitu lho yaa dia ngeluarin jimatnya arek Suroboyo. Padahal yg kena semprot kan Tince. Selidik kena selidik, ternyata sejak di halte, Afgan gak jadi itu udah kesel duluan sama si mbak BEGOKLO ituu. Kecentilan katanya sih, gk mau disenggol.

Yah. Lupakan soal mbak BEGOKLO.

Intinya, kita sampe di Bunderan HI. ya namanya orang udik yg baru ini ke Jakarta, the real Jakarta i mean, langsung heboh gila.
"Woiii, kita sampe bunderan HI!!"
*mau ngakak boleh, ketawa guling-guling juga boleh.
LoL.
Dan tebak sendiri gimana kelanjutannya, lo pasti tau deh.

Alhasil, kita berlima berhasil menginjakkan kaki di Grand Indonesia. Buat kita berempat, except Afgan KW 13, ini pertama kalinya buat kita ke mall paling mewah di Jakarta. *udik banget ya --a

Kita langsung masuk ke west mall karena tujuan utama kita, Magnum Cafe yang ada di level 5.

Kesan pertama gue setelah melihat TKP secara langsung adalah:
"ANJIRR RAME GILAK GAK SANTE BANGET ANTREANNYA"

Tapi yaa.. Masa udah jauh-jauh kesana, tapi gak jadi ngicipin Magnum Cafe yg cuma ada sampe Mei doang. Oke lah kita nekat antre!! Fight fight fight!! :D
Ini video menunjukkan betapa hebatnya sistem kerjasama antara otak dengan indera pendengaran kita. Penasaran? Grab your headset. and play it!!