Showing posts with label Saying. Show all posts
Showing posts with label Saying. Show all posts

The One Who Got Away

In life, you’ll make note of a lot of people. Ones with whom you shared something special, ones who will always mean something. There’s the one you first kissed, the one your first loved, the one you lost your virginity to, the one you put on a pedestal, the one you’re with… and the one who got away.
Who is the one that got away?
… all you know is that (one day) you’ve changed, and for some reason, the one that got away is the first person you think about. You’ll think about them because you’ll wonder, “What if she/he were here today?” You’ll wonder, “What if we were together now, with me as I am and not as I was?”
That’s what the one who got away is. The biggest what-if you’ll have in your life.
Because the very existence of “the one who got away” means that you’ll always wonder, what if you got that one? Ask him out for coffee; ask her out to a movie, it doesn’t matter if you’ve dropped in from out of nowhere. You’d be surprised, you just might be “the one who got away” as well for the person who is your “the one who got away.”
If the timing is finally right, it’ll all fall into place somehow, and it would be a great feeling, if in the end you’ll be able to say to someone, “Hey you, you are the one who almost got away.”

STAN! Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Halo. Sempat ramai ya beberapa akhir ini. Lagi-lagi STAN dapet gratisan numpang di media dan lagi-lagi tentang korupsi. Yang mereka menyebutnya The Next Gayus, haha, kreatif juga. Trus, gimana nih tanggapan mahasiswa-mahasiswi STAN maupun alumnusnya? Banyak yang emosi, marah-marah dan nggak terima almamaternya dikatain sekolah para koruptor, banyak juga yang cuma bisa mengelus dada, ya udah sih..
Kalo pribadi saya sendiri, ya emang jujur saya kesal. Koruptor kan banyak, banyak banget, tapi kenapa begitu ada alumnus STAN yang korupsi, misalnya Om Gayus, eh STAN langsung disorot habis-habisan. Padahal masih banyak pegawai pajak yang integritasnya bisa diacungi jempol lho. Ada beberapa teman yang berpendapat begini, "Itu si Mbak An**e dan Om Na**r nggak dikorek-korek tuh dimana almamaternya? Kenapa musti STAN?" Bener juga sih ya.. Kenapa mesti STAN. Saya cuma bisa mengelus dada. Memang sedih banget almamater saya dikatain sekolah pencetak koruptor, tapi saya tidak mau berpendapat banyak, karena disini saya belum merasakan dunia kerja, jujur saja dan saya nggak munafik.
Yang penting sekarang saya dan teman-teman berusaha untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari STAN, itu tujuan utama saya. Tujuan kedua, biar nggak DO, ya ngerti kan, sekolah kami, nilai kecil aja udah kena DO. Bahkan menyontek aja, kalo dosennya nggak bisa selow, siap-siap angkat koper dari kos-kosan. Sedih banget kan, udah susah banget USM-nya (kata beberapa orang) dan jalur untuk masuk STAN cuma ada satu yaitu USM STAN. 

Balik lagi ke masalah tadi.. Hmm, kalo ada yang menganggap STAN itu sekolah pencetak koruptor, sekarang gini aja lho.. Bukan masalah sekolahnya di STAN atau dimana. Saya yakin, baik di UI, Unair, UGM, STAN, BiNus dan universitas lainnya, nggak ada sekolah yang mengajarkan mahasiswa-mahasiswinya untuk koruptor, saya yakin 100% nggak ada. Dimana-mana sekolah itu mengajarkan siswanya pelajaran yang baik-baik kan? Jadi sekarang kembali pada individu masing-masing, manusia diberikan anugerah oleh Tuhan untuk memilih apa yang dapat mereka lakukan kan? Case closed kalo semua orang punya pandangan seperti ini.
Ya udah sih, kalo saya sudah memasuki dunia kerja dan benar-benar telah dihadapkan pada dunia yang sesungguhnya, dimana uang berkeliaran dan menggoda iman. Saya bakalan ingat-ingat, dulu saya sekolah dibiayain negara, berjuang mati-matian biar nggak kena DO, tidur jam setengah 3 pagi dan bangun subuh ketika musim ujian. Masa tega saya mengkhianati negara yang telah menyekolahkan saya. Itu prinsip saya nanti, bismillah saya akan membalas budi apa yang telah diberikan negara oleh saya. Keep your spirit STANers! Wherever you are :D
Semoga bermanfaat.

Nggak Ada Hubungannya Dengan Massa Elektron

'Kan sudah saya bilang, selagi saya sempat, selagi saya tidak repot dan tidak merasa direpotkan, selagi massa elektron masih 1,6 x 10 pangkat minus sembilanbelas; saya akan datang. Pada suatu hal apapun yang masih dalam jangkauan saya, apalagi bila menyangkut orang-orang terdekat dan terkasih. Karena disini saya belajar untuk menghargai sebuah pertemuan di setiap menit bahkan di tiap detiknya. 
You must think twice before you said it to me, dear Princess in your own Wonderland. Grow up, please.
Padahal saya sendiri benci menunggu. Tapi sudahlah, bukankah itulah prinsip waktu? Ketika kita menunggu, kita akan lebih menghargai makna kedatangan.
















Dan kucing pun mengerti kalau Forehead Kiss itu sungguh romantis :)