Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Dosen Saya Kelewat Keren!

Mungkin dunia melihatnya begitu sempurna, diagungkan dan disegani. Apa yang diperbuat terlihat sangat etis. Tapi hati bisa menerobos lebih dalam dibanding dengan mata. Menemukan bahwa itu etiket, bukan etika.  Bungkus adonan etiket tebal dengan kemunafikan. Yang hanya hati yang bisa mendeteksinya. Jaga hati dan pikiran agar orang di sekitar kita tidak kecewa.

Selembar kertas menangis terinjak-injak pejalan kaki. Di atas sana ia melihat pesawat terbang yang begitu besar bisa terbang. Mengapa yang besar bisa terbang, oh mungkin karena bahan bakar. Ia mengolesi dengan bahan bakar, justru badannya jadi perih dan kaku. Ia juga melihat burung terbang. Oh mungkin karena bulu di sayapnya. Kertas menempeli dirinya dengan bulu. bukannya bisa terbang, justru badan semakin tidak nyaman. Kemudian ia melihat layang2 terbang. Mengapa kertas itu juga bisa terbang dan aku tidak? Ia bertanya pada layang2 dan dijawab. Kamu harus punya penampang bro... Tuhan sudah sediakan angin secara gratis.. 
Tapi kamu harus menyediakan penampang agar angin bisa menerbangkanmu. Seberapa penampang yang kita, manusia miliki? Sering kah kita memanfaatkan tiupan angin untuk mencoba meraih hal lebih baik? Ataukah kita terlempar oleh tiupan angin.. Sekedar bahan perenungan di akhir pekan ini. Selamat hari Minggu.

Status Tulus: Cintailah pasangan kita sepenuh hati, tidak perlu dipertanyakan lagi. Tidaklah berarti kalaupun ada kekurangan pada dirinya, karena toh kita juga manusia biasa yang tak sempurna.

Kebaikan yang kita lakukan dengan niat tulus belum tentu selalu mendapatkan apresiasi, sering kali malah ada yang memanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri. Apakah kemudian itu mengurangi makna kebaikan kita? Sama sekali tidak. Kebenaran akan muncul tepat pada waktunya. Wahai yang berhati lihatlah buah dari Roh, bukan hasutan orang. Saatnya akan datang mengawal kebenaran bagi pelaku kebaikan. Indahnya dunia ketika kebaikan diterima sebagai kebaikan. Ketika penyebar fitnah tidak ada yang percaya. Alangkah damainya dunia jika kita menjadi bagian dari kebaikan dan kebenaran.

Ciyuuuuss...Miapah? Masih mewarnai banyak perbincangan. Yakinlah ini musiman juga. Hanya saja mariiii kita cermati kata2 ini...bhs gaul sebelumnya adl sumpe loe... Demi apa? Kira-kira hampir samalah maknanya. Kembalikan ke ajaran agama masing-masing, apakah untuk meyakinkan sesuatu kita boleh bersumpah? Apakah kita berhak atas sehelai rambutpun? Apakah kita boleh bersumpah demi sesuatu yg atasnya kita tdk ada kuasa apapun..

Dikutip dari status-status Facebook Dosen Budaya Nusantara saya, Yohanes Supriyanto

Rendezvouz




We met up, we hugged, we talked, we laughed, we cried, we sang, we helped each other. 
We were bestfriends, we are bestfriends and we will be bestfriends 

The Meaning of Ijab

Saat akad nikah : “aku terima nikah nya si dia binti ayah si dia dgn Mas kawin…….”
Singkat, padat, dan jelas.
Tapi tahukah makna dalam “perjanjian/ikrar” tersebut?
“Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia dari orang tua nya, dosa apa saja yg telah dia lakukan dari tidak menutup aurat hingga meninggalkan sholat. Semua yg berhubungan dengan si dia, aku tanggung dan bukan lagi orang tua nya yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku”.
Jika aku GAGAL?
“Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar, dan rela masuk neraka, aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku” (HR. Muslim).

——————




Duhai para istri,
Begitu berat nya pengorbanan suami mu terhadapmu..
Karena saat Ijab terucap,
Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjian yg dibuat oleh manusia di depan RABB nya,
Dengan disaksikan para malaikat dan manusia,
maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu,
maka itu pun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami kepadamu.
(via: Maarif Siregar)

HAPPY BIRTHDAY!

Hey! I was turned into 20 on last Wednesday @(*^ェ^)@ Yap, 13tf of June ago I had my birthday. Of course, this number shows that I'm not a teenager again :| a lil bit sad.. But i'd like to say bunch of thanks and be grateful to God, Allah SWT for giving me times till now. So, I had a midnite-birthday-greeting-call from my boyfriend, i was sleeping when he called me. Fortunately, i could wake up from my sleep. He greeted me so well :) and made me smile in the middle of nite. Second, others of birthday greeting came from a lotta friends. Not only via sms but also via twitter and facebook. Couldn't handle it all at that time, because i had a Sunda Performance for Culture of Archipelago class to be shown in front of my friends and my lecturer. So, i was hectic at that time, prepared all the stuffs for our performance. But, before i went to the college, my parents and my lil brother had called me to say HAPPY BIRTHDAY! It was the best spirit ever :)


At college, exactly, after the performance, my lecturer asked to a whole friends to lead us singing "Happy Birthday" to me. And my friends suggested Raja and Raka to lead, LoL. My lecturer gave a chocolate for each of them. Then, we were singing together, it was touching moment :') hahaha. After that, my lecturer asked Raja and Raka to give their chocolate to me. It was a lil bit awkward and crowded of my friends' voices -__-


And la la la, i got some gifts from my close friends and my boyfriend. I really like gift and surprise >.< Here there are some pictures of them with edited.


A gift with shirt-design-large-sized from my boyfriend, a gift from my lovely deskmate when we were in first and second term, Frinda Puspa; a gift from my dearly roommate, Sandra :)

And also Alien-Doll from my new friend; Ryana; A medium sketch book with colouring pen from Sandra;  a black-white-design-hijab with super cute greeting board from Frinda Puspa ; a big orange-teddy bear from my bf ~(=^‥^)ノ
Other images from my birthday gifts ✖‿✖
Thank you berry mucho guys ♡ I hope God always gives the best for ur life, once again thank you thank you (〜^∇^)〜

Those Sweet Moments #1



Schveet moments hi-school edition. Gymnastic group for final practical exam. Had a lot of superb schveet and crazy moments from those. 
Taken by: Dwianita H Puteri's brother.

Karena Saya Takut, Itu Saja.

Saya menemukan tulisan yang sangat baik yang dapat melukiskan mengenai apa yang terjadi pada hari-hari di padang mahsyar saat seluruh umat manusia dari seluruh dunia, dari seluruh zaman, dikumpulkan oleh Allah SWT. Hari-hari di padang mahsyar ini disebut juga hari panggil-memanggil karena seluruh orang di sana, sebagian memanggil sebagian yang lain, untuk meminta pertolongan.

“Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris.” (QS. An-Naba’: 18)

Muadz bin Jabal RA pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai maksud ayat di atas. Mendengar pertanyaan Muadz, baginda Nabi menangis dan basah pakaiannya dengan air mata. Rasulullah menjawab, ‘Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris.’
Barisan Pertama, digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya.
Barisan kedua, digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan shalat.
Barisan ketiga, mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kalajengking. Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat.
Barisan keempat, digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka. Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli.
Barisan kelima, digiring dari kubur dengan bau busuk dan bangkai. Mereka itu yang menyembunyikan perlakuan durhaka karena takut diketahui oleh manusia, namun tidak merasa takut diketahui oleh Allah SWT.
Barisan keenam, digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu.
Barisan ketujuh, digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah, tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. Mereka itulah yang enggan memberikan kesaksian di atas kebenaran.
Barisan kedelapan, digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki di atas. Mereka adalah orang berbuat zina.
Barisan kesembilan, digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru, sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. Mereka itulah yang memakan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya.
Barisan kesepuluh, digiring dari kubur dengan kondisi menderita penyakit kusta. Mereka adalah orang yang durhaka kepada orangtua-nya.
Barisan kesebelas, digiring dari kubur dengan keadaan buta, gigi mereka memanjang, bibir mereka melebar hingga ke dada, dan lidah mereka terjulur sampai ke perut dan mengeluarkan kotoran. Mereka adalah orang yang suka meminum arak.
Barisan keduabelas, mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar. Mereka melewati jembatan sirat dengan secepat kilat.Mereka adalah orang yang beramal shaleh dan banyak berbuat kebaikan. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, memelihara sholat lima waktu, dan ketika mereka meninggal dunia, mereka sudah bertaubat. Barisan ini akan mendapat balasan berupa surga.

Jiwa-jiwa Mahsyar ketika itu ada yang mencakar wajahnya dan menyesali kesia-siaan hidup sebelumnya, namun ada pula jiwa-jiwa mahsyar yang tersenyum penuh kemenangan sembari menggenggam Al-Quran di tangan kanan-nya.

Yang pasti, pergunakan kesempatan hidup kita di dunia. Maksimal. Optimal. Sampai titik nadi terakhir. Karena sungguh pada saat nanti, mereka dengan barisan yang buruk, sangat mendambakan waktu akan berbalik, walaupun satu detik saja. Nah kita yang masih dikasih kesempatan hidup di dunia (walaupun entah berapa lama lagi), masih sangat banyak kesempatan berburu amal, berburu kebaikan.

Pratami Diah Herliani

Get Married!

"Menikah itu tidak hanya mempertemukan dua orang manusia, tetapi menikah itu mempertemukan dua keluarga. Kamu pikir menikah itu mudah? Menikah itu sulit dan butuh persiapan yang matang."
No no no, saya belum kepengen menikah kok. Ini hanya wacana, iya wacana. Jadi filosofinya adalah, saya juga tidk mengerti, tiba-tiba saja ingin melanjutkan postingan yang sempat tertunda beberapa hari karena menumpuknya tugas dan baru sempat hari ini untuk melanjutkannya.

Jadi begini, waktu itu saya sedang ngobrol berdua dengan salah satu teman saya di beranda depan rumah. Ngobrol-ngobrol biasa, becandaan gak penting hanya untuk sekedar membunuh waktu *ceilah*. Nah entah kenapa obrolan kami mendadak menjadi serius, "Pernikahan". Well oh well. Waktu itu kami berdua sama-sama sudah mempunyai pasangan, bedanya lawan bicara saya sudah menjalani hubungan yang lebih lama dibandingkan saya. Nah, dia merasa bahwa dia sudah, hmm apa ya istilahnya, kata orang Jawa sih sudah mentok, udah sreg dengan pasangannya. Ya sudah, saya nyeletuk, "Oke deh ditunggu ya undangannya pas lulus kuliah.." Dan dia menjawab celetukan saya dengan gaya ceramah Aa Gym.

Memang benar, menikah itu nggak gampang. Nggak segampang kamu move on ketika ditolak gebetanmu, nggak segampang kamu lulus ulangan harian fisika-nya Bu SM *oke yang ini songong, tampar saja saya*. Nggak, nikah itu nggak gampang, tapi ketika saya berkata seperti ini bukan berarti saya tidak ingin menikah. No no no, saya juga ingin merasakan hal yang paling sakral di dunia ini, guys. Menikah itu beda dengan pacaran yang dikit-dikit berantem, lima menit kemudian udah mesra-mesraan lagi, dikit-dikit cemburu, dikit-dikit selingkuh *lho*. Menikah itu menyatukan pemikiran antara dua manusia yang masing-masing datang dari latar belakang yang berbeda. Menikah itu dimana kamu meletakkan semua kepercayaanmu kepada pasangan yang nantinya menjadi teman dalam menjalani hidup.

Menikah itu bukan akhir dari perjalanan hidup, justru menikah adalah awal dari segalanya. Justru di situlah lika-liku hidupmu dimulai, mbaksist dan masbro sekalian. Laki-laki yang biasanya hanya mikiran rokok doang yang bisa dia isep,  setelah nikah dia pasti kepikiran "Aduh, bini gue ntar gue kasih makan apa ya?" atau "Njrit, gue lupa ini udah awal bulan!". Sedangkan bagi kaum hawa yang biasanya cuma bisa hedon shopping nyari diskonan dari satu mall meloncat ke mall lain, ntar bakalan mikir "Mamaaaa, ini dagingnya dicincang dulu ato dicemplungin ya?" atau "Sayang, itu kopinya udah disiapin di meja makan.." atau "Ini perut gue kok membesar gini ya? Gue gendut ya Allah, gue gendut!!" *itu hamil bego*. Nah, ribet kan. But, this is life. This is the art of life.

Maka dari itu, persiapkan masa depanmu dari sekarang. Jodoh! Carilah jodoh sedini mungkin, guys! Mengingat umur yang sudah mendekati kepala dua sungguh bukan hal yang main-main lagi untuk masalah percintaan. Seperti petuah dari Mama sahabat saya yang baru saja saya kunjungi beberapa minggu lalu, "Di usia se-kamu gini itu jangan cari pacar, tapi cari pendamping hidup.." *aduuh, beraat Tantee, beraat..*. Dan yang terpenting adalah, pernikahan itu cuma sekali seumur hidup, find the right person on the right place and time. Jangan sampai salah menentukan pilihanmu, karena seperti yang saya katakan di awal, pernikahan itu hal yang paling sakral di dunia ini.
Getting married is like permanently grafting your hand to the cookie jar. No matter how sweet those cookies may taste, you can't help but wonder what would have happened if you'd chosen some other dessert--brownies, for instance ... or frozen yogurt ... or maybe chocolate strudel.

STAN! Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Halo. Sempat ramai ya beberapa akhir ini. Lagi-lagi STAN dapet gratisan numpang di media dan lagi-lagi tentang korupsi. Yang mereka menyebutnya The Next Gayus, haha, kreatif juga. Trus, gimana nih tanggapan mahasiswa-mahasiswi STAN maupun alumnusnya? Banyak yang emosi, marah-marah dan nggak terima almamaternya dikatain sekolah para koruptor, banyak juga yang cuma bisa mengelus dada, ya udah sih..
Kalo pribadi saya sendiri, ya emang jujur saya kesal. Koruptor kan banyak, banyak banget, tapi kenapa begitu ada alumnus STAN yang korupsi, misalnya Om Gayus, eh STAN langsung disorot habis-habisan. Padahal masih banyak pegawai pajak yang integritasnya bisa diacungi jempol lho. Ada beberapa teman yang berpendapat begini, "Itu si Mbak An**e dan Om Na**r nggak dikorek-korek tuh dimana almamaternya? Kenapa musti STAN?" Bener juga sih ya.. Kenapa mesti STAN. Saya cuma bisa mengelus dada. Memang sedih banget almamater saya dikatain sekolah pencetak koruptor, tapi saya tidak mau berpendapat banyak, karena disini saya belum merasakan dunia kerja, jujur saja dan saya nggak munafik.
Yang penting sekarang saya dan teman-teman berusaha untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari STAN, itu tujuan utama saya. Tujuan kedua, biar nggak DO, ya ngerti kan, sekolah kami, nilai kecil aja udah kena DO. Bahkan menyontek aja, kalo dosennya nggak bisa selow, siap-siap angkat koper dari kos-kosan. Sedih banget kan, udah susah banget USM-nya (kata beberapa orang) dan jalur untuk masuk STAN cuma ada satu yaitu USM STAN. 

Balik lagi ke masalah tadi.. Hmm, kalo ada yang menganggap STAN itu sekolah pencetak koruptor, sekarang gini aja lho.. Bukan masalah sekolahnya di STAN atau dimana. Saya yakin, baik di UI, Unair, UGM, STAN, BiNus dan universitas lainnya, nggak ada sekolah yang mengajarkan mahasiswa-mahasiswinya untuk koruptor, saya yakin 100% nggak ada. Dimana-mana sekolah itu mengajarkan siswanya pelajaran yang baik-baik kan? Jadi sekarang kembali pada individu masing-masing, manusia diberikan anugerah oleh Tuhan untuk memilih apa yang dapat mereka lakukan kan? Case closed kalo semua orang punya pandangan seperti ini.
Ya udah sih, kalo saya sudah memasuki dunia kerja dan benar-benar telah dihadapkan pada dunia yang sesungguhnya, dimana uang berkeliaran dan menggoda iman. Saya bakalan ingat-ingat, dulu saya sekolah dibiayain negara, berjuang mati-matian biar nggak kena DO, tidur jam setengah 3 pagi dan bangun subuh ketika musim ujian. Masa tega saya mengkhianati negara yang telah menyekolahkan saya. Itu prinsip saya nanti, bismillah saya akan membalas budi apa yang telah diberikan negara oleh saya. Keep your spirit STANers! Wherever you are :D
Semoga bermanfaat.

This Is Sad. Truly Sad.

My notebook charger broke (again). This Is Sad :( I don't even know why did this happen again. And severity, this is my second charger (my popp was bought it about last September and NEW) :(
I cant do my assignment as well as usual. I cant write in my own blog. I cant browse and do everything i can normally do with. *SIGH*
Therefore, i borrow my roommate's notebook to do my assignments. And i reaaaally reallly dunno, recently days, i got so maaanyyyy assignments to be completed. It ruins me! Oh my gee..
These conditions is compounded with ehmm.. A problem. Suck. Epic. But now, I've handled it and i swear i wont take it serious. *fingercrossed*
And i'm sure, an issue that comes to me will make me more mature level as well, amen.


Istimewanya Seorang Wanita

Kaum feminis bilang susah jadi wanita (baca: muslimah), lihat saja peraturan dibawah ini:
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung Dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami Dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid Dan nifas yang tak Ada pada lelaki..

Itu sebabnya banyak yang berpromosi untuk“MEMERDEKAKAN WANITA”. and look..
1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman Dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak Akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang wanita.
2. Wanita perlu taat kepada suami. Bahwa sesungguhnya lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya.
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi bahwa harta itu menjadi milik pribadinya Dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya. Sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri Dan anak-anak.
4. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggungjawab kan terhadap 4 wanita, yaitu : isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya Dan saudara lelakinya.
5. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH!
Demikian sayangnya ALLAH pada wanita.
Ingat firmanNya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut/tunduk kepada cara-cara/peraturan yang diproduct.
Bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukumNya/peraturanN ya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan yang diproduct. Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.
Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya. Berbahagialah wahai para muslimah. Tunaikan dan menegakkan agamamu, niscaya surga menanti.
Semoga bermanfaat :)

Antara Jakarta dan Surabaya

Seseorang pernah berkata pada saya.

“Kalau aku lagi bosen dan gak semangat ngapa-ngapain, aku langsung terbang ke Jakarta. Entah kenapa, semangatku kembali ketika aku melihat kesibukan di kota tersebut, yah meskipun macetnya bikin tua di jalan, tapi Jakarta mampu mengembalikan semangatku yang entah kemana hilang di kotaku sendiri..”

Seseorang pernah berkata begitu kepada saya, Rika. Seorang teman baik, sekalipun kami jarang bertemu. Tidak jarang kami bertukar pikiran mengenai topik-topik ringan dan sederhana atau hanya membicarakan hal-hal kecil yang absurd. Dan waktu itu, kami sedang, hmm, istilahnya membanding-bandingkan antara Surabaya dan Jakarta.


Jakarta. Saya gak pernah kepikiran untuk singgah di kota ini. Selain yang kata orang macetnya bikin tua di jalan, untuk apa juga saya singgah ke sana. Keinginan untuk mengunjungi Jakarta muncul di benak saya ketika saya duduk di akhir bangku SMA. Saya ingin kuliah di sana, kuliah di universitas jaket kuning, menyusul sahabat saya yang terlebih dahulu mendapatkan bangku di universitas tersebut. Saya dekat sekali dengan sahabat saya, sampai-sampai memiliki pemikiran sedangkal itu. Tanpa memikirkan terlebih dahulu dimana saya akan bertempat tinggal bila kuliah di universitas tersebut.

Tetapi Tuhan tetap mengabulkan keinginan saya meskipun sedikit meleset dari Depok, Bintaro. Saya menetapkan pilihan pada kota ini. Bintaro hanyalah sebuah kota kecil di pinggir Jakarta yang tentunya masih jauh dari kehiruk-pikukan ibukota. Namun tetap saja saya harus melewati Jakarta untuk menjangkau Bintaro.

Jujur, pertama kali melihat pemandangan di pusat ibukota, satu kata, pusing. Saya sedikit pusing melihat gedung-gedung menjulang tinggi yang jarang saya temukan di kota kelahiran saya. Dan tentu saja, saya melihat macet. Menyebalkan memang, berdiam diri di kendaraan, menunggu kapan kendaraan di depan saya menggerakkan bannya untuk melaju. Lantas saya teringat apa yang pernah diucapkan Rika ketika pertama kali menginjakkan kaki di Busway. Butuh perjuangan lebih untuk dapat menginjakkan kaki ke dalam busway, saya perlu antre cukup lama untuk mendapatkan busway yang cukup dinaiki. Di dalam bus pun, tak hentinya saya menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat orang berlalu-lalang, mereka benar-benar sibuk, kota ini benar-benar sibuk. Memang sedikit memacu semangat saya, hanya dengan melihat pemandangan kota Jakarta.

Surabaya. Tempat dimana saya dilahirkan dan dimana sebagian keluarga saya bertempat tinggal. Sebuah kota metropolitan, tapi saya sangat cinta pada kota ini, meskipun bukan asli orang Surabaya. Bapak asli orang Ampel, ada sedikit etnis Cina. Ibu berdarah Madura dan Gresik. Namun sejak TK hingga SMA saya menempuh pendidikan di kota ini. Banyak sekali cerita selama 18 tahun hidup di Surabaya, senang dan sedih, tawa dan tangis, tanpa bisa diprediksi sama sekali. Suka sekali dengan suasana kota Surabaya, meskipun disana-sini saya bisa puluhan kali mendengar orang berkata jancok, tapi, yah, itulah Surabaya. Terkadang mulut kami kasar, tapi hati kami lembut, ramah dan sopan pada siapapun.


Menghabiskan banyak waktu di Surabaya membuat saya mendapatkan begitu banyak pengalaman berharga, yang tentu saja tidak terhitung. Baik itu pengalaman manis maupun yang pahit. Tak jarang saya mendapat tamparan hidup, semacam peringatan atau mungkin saja cobaan. Tak jarang juga kota ini memberikan terlalu banyak kekecewaan pada saya. Mungkin karena Surabaya sudah banyak berubah. Menemukan pusat perbelanjaan disana-sini, jalan yang mulai macet seperti Jakarta.


Saya tidak mengerti. Apakah saya harus meninggalkan kota Surabaya dan hijrah ke Jakarta atau mungkin nantinya saya memiliki opsi lain. Yang jelas saat ini, saya sedikit kecewa dengan kota kelahiran saya yang telah banyak memberi luka dan membuat saya ingin pergi. Sedangkan Jakarta membuat saya belajar untuk mendapatkan segala sesuatu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Saya hanya ingin melupakan sejenak Surabaya lalu bangkit bersama Jakarta. Namun suatu saat saya pasti kembali ke kota itu. Pasti.

Tentang 5 Waktu oleh Kurniawan Gunadi

  • Duduk di atap rumah , malam - malam bersama ibu memang romantis , ayah dulu mendesain rumah ini dengan atap terbuka di lengkapi dengan teleskop Celestron yang menyenangkan untuk melihat langit lebih jauh dimalam cerah di desa yang sepi seperti ini.
  • Ibu tiba-tiba membuka percakapannya sendiri tanpa persetujuan topik seperti biasa
  • Ibu : hey Nak , apa kau rajin shalat 5 waktu di Bandung sana ?
  • Aku : InsyaAllah , Bu
  • aku menjawab sambil mengintip lubang teleskop untuk melihat bulan purnama , cantik sekali.
  • Ibu : di masjid apa di kosan ?
  • Aku : kadang di masjid , kadang di kosan , kenapa Bu ?
  • Ibu : ah kau ini , sama saja kayak bapakmu dulu , hahahaaa kalau bisa kau rajin 5 waktu di masjid sekarang . Besok kalo udah punya istri mungkin tidak bisa rajin2 banget lagi.
  • Aku mengalihkan perhatian dari teleskop , duduk di depan ibu menuntut penjelasan.
  • Ibu : kau tahu , kau ingat , apa ayahmu rajin ke masjid 5 kali sehari ?
  • Aku : tidak bu , hanya paling 3x sehari , hari senin sampai rabu , magrib sama isya beliau di rumah, kamis sampai ahad subuh sama ashar di rumah , kecuali jumat , beliau 5x insyaAllah jamaah di masjid
  • Ibu : nah kau ingat itu , itulah kebijakan bapakmu dulu waktu awal menikah sama ibu , kau tahu kenapa ?
  • jelas ini pertanyaan retoris , tidak perlu jawaban untuk menunggu penjelasan lanjutan dari ibu
  • Ibu : karena ayahmu ingin mengajarimu shalat berjamaah di rumah , merasakan nikmatnya berjamaah bersama kamu dan adikmu , ketika sudah besar bukankah kau yang disuruh menjadi imam ? ayahmu ingin mengajarimu menjadi pemimpin , disisi lain ayahmu pasti menyeret2mu ketika kau malas ke masjid jika tidak ada jamaah di rumah . Kau ingat dulu bukan ? Makanya sebelum kau menikah , rajin2lah jamaah di masjid , kelak kalau sudah menikah , kau akan memikirkan pertimbangan-pertimbangan seperti itu. Anak-anakmu harus tahu rasanya jamaah bersama di masjid ,dan kehangatan jamaah di rumah . Kau tentu tidak akan meninggalkan istri dan anakmu di rumah sementara kau kerajinan jamaah di masjid bukan ?
  • aku tersenyum , akhir-akhir ini ibu sudah banyak bicara masa depan , yah aku sudah lulus , sudah bekerja , nunggu apalagi , begitu katanya. Lantas aku kembali ke teleskop.

Berawal dari bermain skipping..

Mencoba memperbaiki mood dengan mendengarkan lagu-lagu favorit Dimas Ario yang dulu pernah saya temukan di blog pribadinya. White Shoes and The Couples Company, Ode Buat Kota, Homogenic, Sore dan Monita Tahalea. Music bergenre tidak lazim seperti kebanyakan music yang ditayangkan di televisi. Mencoba menikmati dan memperbaiki mood.
 
Pagi terakhir di Surabaya sebelum nanti malam saya kembali merantau di ibukota, tidak terlalu menarik. Penginterogasian di subuh buta mengenai kuliah yang tentu saja sudah mencuri secuil senyum saya di pagi ini. Saya tahu, saya mengerti dan saya harap lawan bicara saya tadi juga mengerti bahwa saya sedang berusaha keras menjalani kewajiban saya. Dilanjutkan dengan mimpi yang sama sekali membuat saya menyesal memutuskan untuk melanjutkan tidur.

Bangun dari tidur, lagi-lagi secuil senyum saya raib begitu saya membuka pesan Blackberry Messenger dari seseorang. Hah, harusnya hari ini begitu indah dan terlalu sayang untuk dilewatkan, seharusnya. Seharusnya hari ini dilewatkan dengan banyak tawa bahagia, canda dan cerita-cerita lucu. Menyayangkan sekali dan membuat saya semakin tidak rela meninggalkan kota ini. Andai saya diberi bonus beberapa hari lagi untuk tinggal di kota ini, andai saja. Mungkin saya tidak akan segalau dan seresah ini. Mungkin. Sedikit.

Surabaya, 7 Januari 2012

It's Not A Funny Story

Menemukan sebuah artikel yang ditulis sendiri oleh saya kira-kira setahun yang lalu. Artikel yang saya tulis ini dalam rangka memenuhi tugas ospek di Universitas Airlangga. Absurd. Ketika pada waktu itu saya telah menetapkan hati untuk hijrah ke ibukota demi melanjutkan pendidikan. Dengan kata lain, saya ikut ospek di kampus tersebut hanya karena iseng, cari teman baru dan selebihnya mengisi waktu luang sebelum saya berangkat meninggalkan Surabaya.
Artikel tersebut saya baca ulang. Cukup menarik, saya sendiri lupa bagaimana bisa saya menemukan ide yang cukup apik untuk menulis artikel tersebut. Terheran sendiri. Tak lupa saya cantumkan cuplikan lagu di akhir artikel yang saya tulis. Sebuah lagu yang cukup fenomenal bagi yang sering mengikuti paduan suara.



Winda Ayu Nugraini
041013244
Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Dari Kami Untuk Negeri

Tak ada kata yang pantas diucapkan pada negeri ini selain kata “Terimakasih”. Memang hanya itulah kata yang pantas diucapkan pada negeri tercinta ini Indonesia, karena Indonesia telah memberi sangat banyak kepada kita. Tanah yang subur, kekayaan alam yang berlimpah, hasil laut yang tiada duanya dan sumber bumi lainnya yang nilainya tak dapat ditukar dengan mata uang manapun. Selain itu, kita juga mendapat pendidikan yang berharga dari DIA, kehidupan yang aman, nyaman tanpa gangguan, keadilan yang dengan mudah kita perjuangkan, dan keadaan ekonomi yang membuat hidup kita semakin senantiasa indahnya.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kini mulai muncul ucapan “terimakasih-terimakasih yang lain” terhadap negeri ini.. Yang lain? Ya, contohnya, terimakasih korupsi, terimakasih kemiskinan, terimakasih kebodohan, terimakasih degradasi moral, dan ucapan terimakasih lainnya yang tak kalah “indahnya”. Apakah DIA yang kita puji-puji boleh merasa bangga dengan ucapan yang kita lontarkan padanya. Tentu saja tidak. Itu sama sekali bukan pujian, melainkan rintihan, keluhan  yang meminta DIA untuk “kembali” pada kondisi sebelumnya. Namun apa? Apa yang terjadi pada DIA yang melibatkan kita di dalamnya? Ya, kami, negeri Indonesia ini semakin terpuruk saja. Entah siapa yang salah, karena masing-masing pihak saling menyalahkan satu sama lain. Miris.
Heran. Ya, heran. Kita merasa heran dengan tingkah laku “orang-orang besar” di negeri ini. Mereka bukannya prihatin dan segera mengambil tindakan untuk memulihkan keadaan negeri. Tetapi, seakan-akan mereka malah seperti memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan mereka sendiri. Kami marah. Kami marah ketika melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil berebut kekuasaan, berkoar-koar mengumbar janji yang tak ayal hanyalah omong belaka. Mereka sama sekali tidak malu. Tertidur saat sidang, bermain BB, bahkan membuka sidang sendiri bersama rekan-rekan lainnya.
Di bidang pendidikan bahkan tak kalah memprihatinkan pula. Ribuan anak-anak Indonesia sekolah di bawah gedung yang tak beratap, gedung yang tak bertembok, bahkan ada yang belajar dalam keadaan berdiri. Hal itu akan menjadi salah satu factor pendukung mengapa begitu banyak anak yang putus sekolah. Tidak heran kan?? Padahal sebenarnya kami tidak bodoh, kami tidak terbelakang. Hanya saja keadaanlah yang membuat kami seperti ini. Banyak anak bangsa yang berhasil menorehkan tinta emas untuk negeri ini. Banyak anak bangsa yang berhasil  menciptakan berbagai karya yang patut diacungi jempol.
Kemiskinan seakan-akan semakin melengkapi penderitaan yang dialami oleh bangsa kita. Negara kita sudah 65 tahun merdeka dari penjajahan bangsa colonial, namun tingkat ekonomi kita masih kalah jika dibandingkan dengan Negara-negara yang umurnya jauh lebih muda dan wilayahnya hanya seperberapa bagian dari Negara kita. Harga bahan pokok yang semakin mahal, angka pengangguran yang semakin memuncak membuat kebanyakan rakyat kecil mengadu nasib ke negeri tetangga guna untuk mendapat pekerjaan yang layak. Bukannya lucu sekali ya?? Negara yang penduduknya malah “minggat” ke negara lain untuk bekerja, membuat kesan seperti negara tidak bisa memekerjakan mereka.

Lalu, apa ya yang membuat negeri kita menjadi seperti ini?
Hmm, sepertinya kita tidak perlu susah-susah untuk mencari jawabannya. Karena bukan jawabanlah yang harus kita cari saat ini, namun solusi. Solusi lah yang pantas kita cari sekarang sebagai generasi penerus bangsa. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk membalas apa yang telah diberikan oleh negeri ini kepada kita, ya inilah saatnya.
Namun bagaimana? Kami masih pelajar, kami masih mahasiswa, dan tugas kami hanyalah belajar. Memang benar, kita masih pelajar, kita masih mahasiswa, dan tugas kita adalah belajar. Namun bukan berarti kita hanya diam saja meratapi nasib negeri yang semakin lama semakin tak jelas arahnya. Justru kitalah yang memegang kunci dari setiap gembok permasalahan yang dihadapi negeri ini.
Kira-kira, hal apa yang harus kita lakukan pertama kali? Tentu saja kita tidak melepaskan kewajiban kita sebagai seorang pelajar, seorang mahasiswa. Justru di usia yang produktif seperti kita inilah kesempatan untuk menuntut ilmu sangat terbuka lebar. Seperti kata pepatah “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Jangan pernah malu untuk bertanya, jangan pernah takut untuk menjawab. Ya, benar. Selagi kita muda, selagi kita masih sempat, galilah ilmu pengetahuan sebanyak yang kita mampu. Karena apa, itulah modal yang paling utama bagi kita untuk memperbaiki negeri kita ini. Tetapi, tentu saja hampa rasanya bila otak kita hanya dipenuhi oleh ilmu pengetahuan dan  rumus-rumus hapalan. Jenuh. Kita perlu mengukur kemampuan kita dengan para pejuang lainnya. Dengan mengikuti perlombaan seperti olimpiade, lomba debat, lomba di bidang budaya maupun seni, kita dapat menunjukkan kemampuan kita. Apalagi bila kita dapat menorehkan prestasi hingga ke tingkat dunia. Sungguh bangga bukan? Ini lho, kami anak-anak Indonesia, kami bisa.. Seperti yang diraih adik-adik kita yang masih duduk di bangku SD beberapa pecan lalu. Mereka berhasil menggondol 3 emas dalam kejuaraan Olimpiade Matematika di Singapore. Hebat bukan anak bangsa ini?
Lalu, apa lagi yang dapat kita berikan untuk negeri kita? Di usia kita yang masih muda ini, tentu saja masih sedikit ilmu yang kita dapat. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu kepemimpinan, ilmu keorganisasian. Dua hal itu sangat penting sekali dalam mengasah ujung tombak kita yang akan kita pergunakan untuk “perang”. Nantinya toh kita yang akan menggantikan posisi “mereka orang-orang besar”. Agar kita tidak seperti mereka, maka mulai sekarang belajarlah untuk benar-benar mengenali negeri ini, mencintai negeri ini. Namun, bagaimana bila godaan dan gangguan tak berhenti menerjang bila kita nanti sudah menjadi “orang besar”? Hmmm, kembali ke diri kita masing-masing. Ingatlah apa yang telah negara berikan untuk negara, sedangkan apa yang telah kita lakukan untuk negara? Belum kan?
Oleh karena itu, maka dari sekarang mari kita sama-sama belajar demi pembangunan negeri kita tercinta ini Indonesia..
***
Sinar mentari cantik berseri
Ada bangga lekat di hati
Semoga lestari semoga abadi
Doa kami dari anak negeri
Puji dan syukur kami berikan
Negeri ini tentram sentosa
Bangunlah semua satukan cita
‘tuk negeri tercinta Indonesia…
(Doa Anak Negeri)

Pak!

Pak, saya gak minta apa-apa
Cukup temani saya berjalan
Bawakan juga lentera ini untuk saya
Dan tunjukkan kemana saya harus belok ketika ada persimpangan


Pak, saya gak nuntut apa-apa
Cukup doa seikhlasnya
Dan restu dari Bapak


Pak, saya gak ingin apa-apa
Cukup singkirkan kerikil di tengah jalan itu
Daripada saya terjatuh dan membuatmu repot


Pak, saya gak berani berjanji
Tapi saya niat ingsun kanjeng Gusti
Nyuwun pangestune nggih, Pak!

Menjangkau Kesempatan

Ada saatnya dimana kesempatan itu dicabut. Dimana kita tak dapat lagi melakukan kesempatan-kesempatan yang biasanya ada di depan mata. Atau sekedar membuang waktu dengan melakukan hal-hal kecil dan sedikit konyol dengan orang yang kau sayangi. Dengan seiring bergulirnya waktu dan tanpa kita sadari, waktu dimana kesempatan-kesempatan itu mudah kita raih telah lenyap dari jangkauan kita. Perlahan retak, kemudian pecah dan berbaur bersama kerlap-kerlip lampu kota di malam hari yang indah bila kau pandang tanpa bisa memilikinya kembali.


Mungkin saat ini kau sering mengeluh karena terjebak macet di perjalanan mengantar keluargamu ke sebuah pertokoan. Sambil memaki dalam hati karena mobil di depanmu tak kunjung bergerak. Atau kau sedikit terganggu dengan ocehan mamamu yang menyuruh untuk segera mematikan laptopmu.
Semuanya tampak menyebalkan ketika hal-hal yang kita hadapi tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Rasanya hanya ingin bebas dan melakukan apa saja yang kita mau. Dan apalagi yang bisa kau lakukan saat itu kecuali mengeluh?


Namun suatu saat kau akan merindukan hal-hal yang dulu biasa dan rutin kau lakukan.
Menikmati sinar matahari pagi ditemani dengan segelas susu hangat dan roti gandum berisi selai coklat sebelum berangkat ke kantor; Kemacetan di tengah perjalanan mengantar keluargamu ke sebuah pusat perbelanjaan; Omelan mama yang menyuruhmu untuk segera berangkat tidur dan mematikan laptopmu; Atau sekedar menjemput kekasihmu pulang kuliah dan mengajaknya makan siang di sebuah depot di pinggir jalan.


Kau masih berada di Bimasakti, tapi kau sudah keluar dari lintasanmu. Membentuk lintasan yang lebih baru lagi. Menjadi sesuatu yang baru.


Maka dari itu, selagi kau masih dapat menjangkau kesempatan-kesempatan itu, lakukanlah. Sebelum waktu benar-benar merampasnya dari genggamanmu. Sebelum waktu mengurangi porsimu untuk bertemu dengan orang-orang yang kau sayangi.


*catatan di suatu senja yang disambut dengan penuh rasa syukur. Didedikasikan kepada seseorang yang sedang belajar untuk menghargai waktu.

Ini Masalah Waktu

Hidup itu hebat.
Kau tak perlu repot-repot mengaturnya sedemikian rupa, tapi hidup sendirilah yang akan menunjukkan jalanmu. Kemana kau akan melangkah setelah ini; apa yang akan kau lakukan terhadap sedcangkir kopi yang mulai dingin; apa yang akan kau lakukan terhadap sahabatmu yang patah hati. Hidup sendiri yang akan membawamu memilih putusan-putusan yang paling tepat, di saat kau harus memilih.


Hidup itu berurusan dengan waktu. Mereka sangat dekat, seperti Tuhan yang dekat dengan umatNya. Mungkin hidup bisa terlalu sadis padamu; memberimu sekodi bahkan seton pertanyaan yang tak mampu kau jawab hanya dengan membalikkan tangan atau hanya dengan melihat rumus logaritma di buku catatanmu.
Namun hidup seperti berkonspirasi dengan waktu, duet maut yang aku yakin dan berani bertaruhtak seorang pun ada yang bisa menebak ataupun menduga keberadaan mereka. Tetapi, ketika kau mempercayakan semuanya pada waktu, semua tanda tanya besar yang selama ini mendominasi pikiranmu akan terhapus. Meski sebagian orang bertuhan bahwa ada beberapa pertanyaan yang tak perlu jawaban.


Dengan begini, masihkah kau tak percaya dengan waktu?