Showing posts with label Struggle. Show all posts
Showing posts with label Struggle. Show all posts

Halo Tante Ninik...

Percakapan dengan Tante saya di Krian..


T: "Halo Sayang, sudah kasih kado apa buat Ibu di rumah?"
E: "Belum :(.."
T: "Kado kiss aja.. Ibu kamu itu seorang ibu yang sangat baik, kado kiss jauh juga gak apa.."
E: " Hehe, iya Tante.. Emi mau ngasih kado kalo kurang lebih satu tahun lagi Emi lulus dari STAN, nilainya baik, penempatan instansi dan kotanya juga baik, biar Ibu seneng.."
T: "Oke setuju, emi harus berhasil. Tante juga pingin lihat ponakan Tante sukses semua, itu anugerah terindah buat Tante.."
E: *kemudian mewek* *speechless* 


Aamiin, aamiin. Semoga doa ini dapat terwujud kurang lebih satu tahun mendatang. Doakan Emi selalu ya Bu, Pak ;)

Karena Saya Takut, Itu Saja.

Saya menemukan tulisan yang sangat baik yang dapat melukiskan mengenai apa yang terjadi pada hari-hari di padang mahsyar saat seluruh umat manusia dari seluruh dunia, dari seluruh zaman, dikumpulkan oleh Allah SWT. Hari-hari di padang mahsyar ini disebut juga hari panggil-memanggil karena seluruh orang di sana, sebagian memanggil sebagian yang lain, untuk meminta pertolongan.

“Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris.” (QS. An-Naba’: 18)

Muadz bin Jabal RA pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai maksud ayat di atas. Mendengar pertanyaan Muadz, baginda Nabi menangis dan basah pakaiannya dengan air mata. Rasulullah menjawab, ‘Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris.’
Barisan Pertama, digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya.
Barisan kedua, digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan shalat.
Barisan ketiga, mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kalajengking. Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat.
Barisan keempat, digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka. Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli.
Barisan kelima, digiring dari kubur dengan bau busuk dan bangkai. Mereka itu yang menyembunyikan perlakuan durhaka karena takut diketahui oleh manusia, namun tidak merasa takut diketahui oleh Allah SWT.
Barisan keenam, digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu.
Barisan ketujuh, digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah, tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. Mereka itulah yang enggan memberikan kesaksian di atas kebenaran.
Barisan kedelapan, digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki di atas. Mereka adalah orang berbuat zina.
Barisan kesembilan, digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru, sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. Mereka itulah yang memakan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya.
Barisan kesepuluh, digiring dari kubur dengan kondisi menderita penyakit kusta. Mereka adalah orang yang durhaka kepada orangtua-nya.
Barisan kesebelas, digiring dari kubur dengan keadaan buta, gigi mereka memanjang, bibir mereka melebar hingga ke dada, dan lidah mereka terjulur sampai ke perut dan mengeluarkan kotoran. Mereka adalah orang yang suka meminum arak.
Barisan keduabelas, mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar. Mereka melewati jembatan sirat dengan secepat kilat.Mereka adalah orang yang beramal shaleh dan banyak berbuat kebaikan. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, memelihara sholat lima waktu, dan ketika mereka meninggal dunia, mereka sudah bertaubat. Barisan ini akan mendapat balasan berupa surga.

Jiwa-jiwa Mahsyar ketika itu ada yang mencakar wajahnya dan menyesali kesia-siaan hidup sebelumnya, namun ada pula jiwa-jiwa mahsyar yang tersenyum penuh kemenangan sembari menggenggam Al-Quran di tangan kanan-nya.

Yang pasti, pergunakan kesempatan hidup kita di dunia. Maksimal. Optimal. Sampai titik nadi terakhir. Karena sungguh pada saat nanti, mereka dengan barisan yang buruk, sangat mendambakan waktu akan berbalik, walaupun satu detik saja. Nah kita yang masih dikasih kesempatan hidup di dunia (walaupun entah berapa lama lagi), masih sangat banyak kesempatan berburu amal, berburu kebaikan.

Pratami Diah Herliani

STAN! Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Halo. Sempat ramai ya beberapa akhir ini. Lagi-lagi STAN dapet gratisan numpang di media dan lagi-lagi tentang korupsi. Yang mereka menyebutnya The Next Gayus, haha, kreatif juga. Trus, gimana nih tanggapan mahasiswa-mahasiswi STAN maupun alumnusnya? Banyak yang emosi, marah-marah dan nggak terima almamaternya dikatain sekolah para koruptor, banyak juga yang cuma bisa mengelus dada, ya udah sih..
Kalo pribadi saya sendiri, ya emang jujur saya kesal. Koruptor kan banyak, banyak banget, tapi kenapa begitu ada alumnus STAN yang korupsi, misalnya Om Gayus, eh STAN langsung disorot habis-habisan. Padahal masih banyak pegawai pajak yang integritasnya bisa diacungi jempol lho. Ada beberapa teman yang berpendapat begini, "Itu si Mbak An**e dan Om Na**r nggak dikorek-korek tuh dimana almamaternya? Kenapa musti STAN?" Bener juga sih ya.. Kenapa mesti STAN. Saya cuma bisa mengelus dada. Memang sedih banget almamater saya dikatain sekolah pencetak koruptor, tapi saya tidak mau berpendapat banyak, karena disini saya belum merasakan dunia kerja, jujur saja dan saya nggak munafik.
Yang penting sekarang saya dan teman-teman berusaha untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari STAN, itu tujuan utama saya. Tujuan kedua, biar nggak DO, ya ngerti kan, sekolah kami, nilai kecil aja udah kena DO. Bahkan menyontek aja, kalo dosennya nggak bisa selow, siap-siap angkat koper dari kos-kosan. Sedih banget kan, udah susah banget USM-nya (kata beberapa orang) dan jalur untuk masuk STAN cuma ada satu yaitu USM STAN. 

Balik lagi ke masalah tadi.. Hmm, kalo ada yang menganggap STAN itu sekolah pencetak koruptor, sekarang gini aja lho.. Bukan masalah sekolahnya di STAN atau dimana. Saya yakin, baik di UI, Unair, UGM, STAN, BiNus dan universitas lainnya, nggak ada sekolah yang mengajarkan mahasiswa-mahasiswinya untuk koruptor, saya yakin 100% nggak ada. Dimana-mana sekolah itu mengajarkan siswanya pelajaran yang baik-baik kan? Jadi sekarang kembali pada individu masing-masing, manusia diberikan anugerah oleh Tuhan untuk memilih apa yang dapat mereka lakukan kan? Case closed kalo semua orang punya pandangan seperti ini.
Ya udah sih, kalo saya sudah memasuki dunia kerja dan benar-benar telah dihadapkan pada dunia yang sesungguhnya, dimana uang berkeliaran dan menggoda iman. Saya bakalan ingat-ingat, dulu saya sekolah dibiayain negara, berjuang mati-matian biar nggak kena DO, tidur jam setengah 3 pagi dan bangun subuh ketika musim ujian. Masa tega saya mengkhianati negara yang telah menyekolahkan saya. Itu prinsip saya nanti, bismillah saya akan membalas budi apa yang telah diberikan negara oleh saya. Keep your spirit STANers! Wherever you are :D
Semoga bermanfaat.

Ich Vermisse Chor, Ich Vermisse Gita Smala

I should blame Mark Zuckerberg. He makes me longing for my activity in past, choir. When I was scrolling down my facebook timeline, i mean my older posts, yeah I found my old photos with my buddies of mine while we're still in Gita Smala Youth Choir. We used to sing together. Competed with other choir group, won the competitions. I reaaaaally reaaaaally longing for those times. Especially when we were together join international choir competition in Penang, Malaysia. Yeah, I had superb quality time with them.
Yah. Saya merindukan semuanya. Mulai dari partitur not balok yang saya akui, I can't read those symbol err whatever it called, piano ataupun keyboard yang selalu mengiringi kami dalam setiap latihan, Mas Bagus ataupun Pak Theis ataupun Nania yang melatih vokal kami dan tentunya teman-teman saya mulai dari Sopran I hingga Bass II.
Dan saya belum menemukan paduan suara seperti Gita Smala hingga detik ini. They are the best choir group I've ever met.
Nah, Sandra memperparah keadaan dengan memberitahukan bahwa Vocawardhana akan mengikuti kompetisi FPS ITB 2012!! Jeng jeng! Me very excited with that news. Dan kabarnya Open Recruitment tim FPS ITB 2012 ini dibuka tanpa pandang spesialisasi maupun tingkat. Yay, challenge accepted. Insya Allah saya akan mengikuti audisi tersebut, wish me luck ^^
Mengingat bahwa saya tidak kesampaian mengikuti kompetisi tersebut ketika saya masih di SMA. Hem, ini semua salah Pak Theis --"

Oya, saya juga sempat menemukan lagu yang enaaak sekali untuk didengar, tentu saja lagu choir. Judulnya Sanctus, saya tidak mengetahui apakah ini lagu Gereja atau bukan, tapi menurut Google, Sanctus berarti Holy.
Pertama kali dengar lagu ini dari HP Mas Sali, wah saya langsung suka . Coba kita bandingkan dengan video choir yang satu ini, di antaranya ada saya yang juga ikut menyanyi :D
Nyaha! Lucu sekali kan :D Nah sekarang, saya akan fokus pada akademis saya dan semoga mimpi saya yang belum kesampaian ini dapat terwujud di kampus perjuangan ini, yay!

Antara Jakarta dan Surabaya

Seseorang pernah berkata pada saya.

“Kalau aku lagi bosen dan gak semangat ngapa-ngapain, aku langsung terbang ke Jakarta. Entah kenapa, semangatku kembali ketika aku melihat kesibukan di kota tersebut, yah meskipun macetnya bikin tua di jalan, tapi Jakarta mampu mengembalikan semangatku yang entah kemana hilang di kotaku sendiri..”

Seseorang pernah berkata begitu kepada saya, Rika. Seorang teman baik, sekalipun kami jarang bertemu. Tidak jarang kami bertukar pikiran mengenai topik-topik ringan dan sederhana atau hanya membicarakan hal-hal kecil yang absurd. Dan waktu itu, kami sedang, hmm, istilahnya membanding-bandingkan antara Surabaya dan Jakarta.


Jakarta. Saya gak pernah kepikiran untuk singgah di kota ini. Selain yang kata orang macetnya bikin tua di jalan, untuk apa juga saya singgah ke sana. Keinginan untuk mengunjungi Jakarta muncul di benak saya ketika saya duduk di akhir bangku SMA. Saya ingin kuliah di sana, kuliah di universitas jaket kuning, menyusul sahabat saya yang terlebih dahulu mendapatkan bangku di universitas tersebut. Saya dekat sekali dengan sahabat saya, sampai-sampai memiliki pemikiran sedangkal itu. Tanpa memikirkan terlebih dahulu dimana saya akan bertempat tinggal bila kuliah di universitas tersebut.

Tetapi Tuhan tetap mengabulkan keinginan saya meskipun sedikit meleset dari Depok, Bintaro. Saya menetapkan pilihan pada kota ini. Bintaro hanyalah sebuah kota kecil di pinggir Jakarta yang tentunya masih jauh dari kehiruk-pikukan ibukota. Namun tetap saja saya harus melewati Jakarta untuk menjangkau Bintaro.

Jujur, pertama kali melihat pemandangan di pusat ibukota, satu kata, pusing. Saya sedikit pusing melihat gedung-gedung menjulang tinggi yang jarang saya temukan di kota kelahiran saya. Dan tentu saja, saya melihat macet. Menyebalkan memang, berdiam diri di kendaraan, menunggu kapan kendaraan di depan saya menggerakkan bannya untuk melaju. Lantas saya teringat apa yang pernah diucapkan Rika ketika pertama kali menginjakkan kaki di Busway. Butuh perjuangan lebih untuk dapat menginjakkan kaki ke dalam busway, saya perlu antre cukup lama untuk mendapatkan busway yang cukup dinaiki. Di dalam bus pun, tak hentinya saya menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat orang berlalu-lalang, mereka benar-benar sibuk, kota ini benar-benar sibuk. Memang sedikit memacu semangat saya, hanya dengan melihat pemandangan kota Jakarta.

Surabaya. Tempat dimana saya dilahirkan dan dimana sebagian keluarga saya bertempat tinggal. Sebuah kota metropolitan, tapi saya sangat cinta pada kota ini, meskipun bukan asli orang Surabaya. Bapak asli orang Ampel, ada sedikit etnis Cina. Ibu berdarah Madura dan Gresik. Namun sejak TK hingga SMA saya menempuh pendidikan di kota ini. Banyak sekali cerita selama 18 tahun hidup di Surabaya, senang dan sedih, tawa dan tangis, tanpa bisa diprediksi sama sekali. Suka sekali dengan suasana kota Surabaya, meskipun disana-sini saya bisa puluhan kali mendengar orang berkata jancok, tapi, yah, itulah Surabaya. Terkadang mulut kami kasar, tapi hati kami lembut, ramah dan sopan pada siapapun.


Menghabiskan banyak waktu di Surabaya membuat saya mendapatkan begitu banyak pengalaman berharga, yang tentu saja tidak terhitung. Baik itu pengalaman manis maupun yang pahit. Tak jarang saya mendapat tamparan hidup, semacam peringatan atau mungkin saja cobaan. Tak jarang juga kota ini memberikan terlalu banyak kekecewaan pada saya. Mungkin karena Surabaya sudah banyak berubah. Menemukan pusat perbelanjaan disana-sini, jalan yang mulai macet seperti Jakarta.


Saya tidak mengerti. Apakah saya harus meninggalkan kota Surabaya dan hijrah ke Jakarta atau mungkin nantinya saya memiliki opsi lain. Yang jelas saat ini, saya sedikit kecewa dengan kota kelahiran saya yang telah banyak memberi luka dan membuat saya ingin pergi. Sedangkan Jakarta membuat saya belajar untuk mendapatkan segala sesuatu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Saya hanya ingin melupakan sejenak Surabaya lalu bangkit bersama Jakarta. Namun suatu saat saya pasti kembali ke kota itu. Pasti.

It's Not A Funny Story

Menemukan sebuah artikel yang ditulis sendiri oleh saya kira-kira setahun yang lalu. Artikel yang saya tulis ini dalam rangka memenuhi tugas ospek di Universitas Airlangga. Absurd. Ketika pada waktu itu saya telah menetapkan hati untuk hijrah ke ibukota demi melanjutkan pendidikan. Dengan kata lain, saya ikut ospek di kampus tersebut hanya karena iseng, cari teman baru dan selebihnya mengisi waktu luang sebelum saya berangkat meninggalkan Surabaya.
Artikel tersebut saya baca ulang. Cukup menarik, saya sendiri lupa bagaimana bisa saya menemukan ide yang cukup apik untuk menulis artikel tersebut. Terheran sendiri. Tak lupa saya cantumkan cuplikan lagu di akhir artikel yang saya tulis. Sebuah lagu yang cukup fenomenal bagi yang sering mengikuti paduan suara.



Winda Ayu Nugraini
041013244
Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Dari Kami Untuk Negeri

Tak ada kata yang pantas diucapkan pada negeri ini selain kata “Terimakasih”. Memang hanya itulah kata yang pantas diucapkan pada negeri tercinta ini Indonesia, karena Indonesia telah memberi sangat banyak kepada kita. Tanah yang subur, kekayaan alam yang berlimpah, hasil laut yang tiada duanya dan sumber bumi lainnya yang nilainya tak dapat ditukar dengan mata uang manapun. Selain itu, kita juga mendapat pendidikan yang berharga dari DIA, kehidupan yang aman, nyaman tanpa gangguan, keadilan yang dengan mudah kita perjuangkan, dan keadaan ekonomi yang membuat hidup kita semakin senantiasa indahnya.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kini mulai muncul ucapan “terimakasih-terimakasih yang lain” terhadap negeri ini.. Yang lain? Ya, contohnya, terimakasih korupsi, terimakasih kemiskinan, terimakasih kebodohan, terimakasih degradasi moral, dan ucapan terimakasih lainnya yang tak kalah “indahnya”. Apakah DIA yang kita puji-puji boleh merasa bangga dengan ucapan yang kita lontarkan padanya. Tentu saja tidak. Itu sama sekali bukan pujian, melainkan rintihan, keluhan  yang meminta DIA untuk “kembali” pada kondisi sebelumnya. Namun apa? Apa yang terjadi pada DIA yang melibatkan kita di dalamnya? Ya, kami, negeri Indonesia ini semakin terpuruk saja. Entah siapa yang salah, karena masing-masing pihak saling menyalahkan satu sama lain. Miris.
Heran. Ya, heran. Kita merasa heran dengan tingkah laku “orang-orang besar” di negeri ini. Mereka bukannya prihatin dan segera mengambil tindakan untuk memulihkan keadaan negeri. Tetapi, seakan-akan mereka malah seperti memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan mereka sendiri. Kami marah. Kami marah ketika melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil berebut kekuasaan, berkoar-koar mengumbar janji yang tak ayal hanyalah omong belaka. Mereka sama sekali tidak malu. Tertidur saat sidang, bermain BB, bahkan membuka sidang sendiri bersama rekan-rekan lainnya.
Di bidang pendidikan bahkan tak kalah memprihatinkan pula. Ribuan anak-anak Indonesia sekolah di bawah gedung yang tak beratap, gedung yang tak bertembok, bahkan ada yang belajar dalam keadaan berdiri. Hal itu akan menjadi salah satu factor pendukung mengapa begitu banyak anak yang putus sekolah. Tidak heran kan?? Padahal sebenarnya kami tidak bodoh, kami tidak terbelakang. Hanya saja keadaanlah yang membuat kami seperti ini. Banyak anak bangsa yang berhasil menorehkan tinta emas untuk negeri ini. Banyak anak bangsa yang berhasil  menciptakan berbagai karya yang patut diacungi jempol.
Kemiskinan seakan-akan semakin melengkapi penderitaan yang dialami oleh bangsa kita. Negara kita sudah 65 tahun merdeka dari penjajahan bangsa colonial, namun tingkat ekonomi kita masih kalah jika dibandingkan dengan Negara-negara yang umurnya jauh lebih muda dan wilayahnya hanya seperberapa bagian dari Negara kita. Harga bahan pokok yang semakin mahal, angka pengangguran yang semakin memuncak membuat kebanyakan rakyat kecil mengadu nasib ke negeri tetangga guna untuk mendapat pekerjaan yang layak. Bukannya lucu sekali ya?? Negara yang penduduknya malah “minggat” ke negara lain untuk bekerja, membuat kesan seperti negara tidak bisa memekerjakan mereka.

Lalu, apa ya yang membuat negeri kita menjadi seperti ini?
Hmm, sepertinya kita tidak perlu susah-susah untuk mencari jawabannya. Karena bukan jawabanlah yang harus kita cari saat ini, namun solusi. Solusi lah yang pantas kita cari sekarang sebagai generasi penerus bangsa. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk membalas apa yang telah diberikan oleh negeri ini kepada kita, ya inilah saatnya.
Namun bagaimana? Kami masih pelajar, kami masih mahasiswa, dan tugas kami hanyalah belajar. Memang benar, kita masih pelajar, kita masih mahasiswa, dan tugas kita adalah belajar. Namun bukan berarti kita hanya diam saja meratapi nasib negeri yang semakin lama semakin tak jelas arahnya. Justru kitalah yang memegang kunci dari setiap gembok permasalahan yang dihadapi negeri ini.
Kira-kira, hal apa yang harus kita lakukan pertama kali? Tentu saja kita tidak melepaskan kewajiban kita sebagai seorang pelajar, seorang mahasiswa. Justru di usia yang produktif seperti kita inilah kesempatan untuk menuntut ilmu sangat terbuka lebar. Seperti kata pepatah “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Jangan pernah malu untuk bertanya, jangan pernah takut untuk menjawab. Ya, benar. Selagi kita muda, selagi kita masih sempat, galilah ilmu pengetahuan sebanyak yang kita mampu. Karena apa, itulah modal yang paling utama bagi kita untuk memperbaiki negeri kita ini. Tetapi, tentu saja hampa rasanya bila otak kita hanya dipenuhi oleh ilmu pengetahuan dan  rumus-rumus hapalan. Jenuh. Kita perlu mengukur kemampuan kita dengan para pejuang lainnya. Dengan mengikuti perlombaan seperti olimpiade, lomba debat, lomba di bidang budaya maupun seni, kita dapat menunjukkan kemampuan kita. Apalagi bila kita dapat menorehkan prestasi hingga ke tingkat dunia. Sungguh bangga bukan? Ini lho, kami anak-anak Indonesia, kami bisa.. Seperti yang diraih adik-adik kita yang masih duduk di bangku SD beberapa pecan lalu. Mereka berhasil menggondol 3 emas dalam kejuaraan Olimpiade Matematika di Singapore. Hebat bukan anak bangsa ini?
Lalu, apa lagi yang dapat kita berikan untuk negeri kita? Di usia kita yang masih muda ini, tentu saja masih sedikit ilmu yang kita dapat. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu kepemimpinan, ilmu keorganisasian. Dua hal itu sangat penting sekali dalam mengasah ujung tombak kita yang akan kita pergunakan untuk “perang”. Nantinya toh kita yang akan menggantikan posisi “mereka orang-orang besar”. Agar kita tidak seperti mereka, maka mulai sekarang belajarlah untuk benar-benar mengenali negeri ini, mencintai negeri ini. Namun, bagaimana bila godaan dan gangguan tak berhenti menerjang bila kita nanti sudah menjadi “orang besar”? Hmmm, kembali ke diri kita masing-masing. Ingatlah apa yang telah negara berikan untuk negara, sedangkan apa yang telah kita lakukan untuk negara? Belum kan?
Oleh karena itu, maka dari sekarang mari kita sama-sama belajar demi pembangunan negeri kita tercinta ini Indonesia..
***
Sinar mentari cantik berseri
Ada bangga lekat di hati
Semoga lestari semoga abadi
Doa kami dari anak negeri
Puji dan syukur kami berikan
Negeri ini tentram sentosa
Bangunlah semua satukan cita
‘tuk negeri tercinta Indonesia…
(Doa Anak Negeri)

21.41 dan 21.45

21.41
Ini bukan nomor togel atau apa.
Ini angka yang ditunjukkan oleh jam di layar ponselku.
Semacam kewalahan sendiri menuntun otak untuk mengerti apa yang dimaksud oleh Pak William Carter ini.
Bahasa Bapak yang terlalu tinggi atau otak yang tak kuasa dalam perhelatan konspirasi malam ini?


Nah. Sudah 21.45 saja.
Mengajak otak tenggelam lagi dalam dunia William Carter. Wish Me Luck :)

Hey, I'm Part of FeDex!

Masih belum jam duabelas, itu berarti belum saatnya untuk tidur. Mungkin ada yang sedikit mengomel di ujung sana bila mendengar statement saya di atas.
Sedikit bercerita tentang kegiatan di awal November ini, hmm, banyak yang menarik. Tentu saja.



Awal November.
Seperti biasa, disibukkan dengan jadwal kuliah yang mulai padat merayap. Akibat dari sering tidak masuknya dosen pada pertemuan sebelumnya. Membuat saya sedikit collapse dengan jadwal kuliah yang antiklimaks dan belum lagi tugas dari BEM yang tak enggan menyapa.

Menyinggung jadwal kuliah, tentu saja saya teringat dengan teman-teman saya, 2D Pajak yang notabene berisi teman-teman baru dari kelas sebelumnya.
Pada awalnya saya berekspektasi kecil. Karena masih kangen dengan kelas lama, yang bertambah keakrabannya menjelang kenaikan tingkat. Tapi ada yang berbeda di awal November ini.
2D Administrasi Perpajakan

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
Tahun Ajaran 2011-2012
Berjumlah tiga puluh tujuh kepala; kesebelasan wanita dan sisanya pria.
Seperti yang sebelumnya saya katakan, saya berekspektasi kecil. Tapi, saya mulai menemukan chemistry dengan kelas ini. Bahkan, saya berani berekspektasi lebih sekarang.

Kelas yang mulai gaduh. Mulai terdengar teriakan di sana-sini. Tawa yang lepas dari sekelompok anak. Diskusi maupun debat antar bangku. Notebook yang digunakan untuk menonton film. Atau kartu UNO yang terjejer di bangku belakang.

Yahh.. Saya sangat suka dengan suasana ini. Dan ingin tetap begini tanpa ada yang terlewat satu pun. Itu doa saya malam ini. Tentunya kami akan sama-sama berjuang untuk menggapai cita-cita kami, membuat orang-orang yang kami cintai tersenyum. Cukup sederhana kan, Tuhan?

Insya Allah, kelas kami dapat membawa berkah ke depannya. Bukankah niat baik akan selalu diberi ridha olehNya?

Salam hangat selalu untuk 2D Pajak. Yuk kita berjuang bersama-sama :)

Pak!

Pak, saya gak minta apa-apa
Cukup temani saya berjalan
Bawakan juga lentera ini untuk saya
Dan tunjukkan kemana saya harus belok ketika ada persimpangan


Pak, saya gak nuntut apa-apa
Cukup doa seikhlasnya
Dan restu dari Bapak


Pak, saya gak ingin apa-apa
Cukup singkirkan kerikil di tengah jalan itu
Daripada saya terjatuh dan membuatmu repot


Pak, saya gak berani berjanji
Tapi saya niat ingsun kanjeng Gusti
Nyuwun pangestune nggih, Pak!

Oktober Dua Puluh Satu

Pukul sebelas tiga delapan, Oktober dua puluh satu
Langit-langit kamar; lemari coklat berpintu dua; tumpukan buku di atas meja belajar

Pukul sebelas tiga sembilan, Oktober dua puluh satu
Mug plastik hijau berisi penuh air; sebungkus mie instan di atas lemari; kerudung coklat yang disampirkan begitu saja

Pukul sebelas empat nol, Oktober dua puluh satu
Kalkulator yang tertelungkup di atas tumpukan buku; Kardus yang mulai rusak di bagian ujungnya; Exhaust fan yang dibiarkan menyala

Di sini; kuselesaikan minggu berat ini.
Deadline mengejar
Tugas menjerit ingin disentuh

Ah
Yang penting semuanya selesai
Aku menang kan?

Pukul sebelas empat satu, Oktober dua puluh satu
Aku ingin hari ini cepat besok!