Karya Bernard Batubara
Laksmi, di permukaan mataku kau menuliskan luka
Lalu memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata
Kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan
Sementara airmata sibuk mencari jalan pulang
Takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat
Aku tak mampu menulis di tanganmu
Sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian
Kita begitu hapal cara saling menemukan
Tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan
Di dadamu, ada tulisan yang tak pernah selesai
Tentang rinduh yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain
Jauh dari yang tak akan kembali
Jauh dari yang tak pernah terjadi
Di dadamu, ada tulisan yang tak pernah selesai
Tentang rinduh yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain
Jauh dari yang tak akan kembali
Jauh dari yang tak pernah terjadi
Showing posts with label Rhymes. Show all posts
Showing posts with label Rhymes. Show all posts
Payung Teduh - Rahasia
Tak ada sore dan udara menjadi segar
Tak ada gelap lalu mata enggan menatap
Tak ada bintang mati butiran pasir terbang ke langit
Tak ada fajar hanya remang malam semua tlah hilang, terserang matahari..
Harum mawar membunuh bulan
Rahasia tetap diam tak terucap
Untuk itu semua aku mencarimu
Berikan tanganmu jabat jemariku
Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu
Berikan suaramu pada semua bisikanku
Memanggil namamu..
Atau kau ingin aku berteriak sekencang-kencangnya
Agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku
Ini rahasiaku
Tak ada gelap segelap jauh darimu
Tak ada terang yang seterang sinarmu
Tak ada lagi bintang mataku
Ketika bayanganmu menjauh, membentang
Kau buat rindu dan harapku melayang-layang
Kamu pernah menjadi senja menenggelamkan semua
Kini yang tersisa hanya aroma tawa
Yang tersisa hanya harum air mata
Lalu aku mencari suara, kuobrak-abrik namamu
Aku mencari wujudmu
Aku mencarimu
Aku mencarimu...
If you wanna download this song, click here :)
Tak ada gelap lalu mata enggan menatap
Tak ada bintang mati butiran pasir terbang ke langit
Tak ada fajar hanya remang malam semua tlah hilang, terserang matahari..
Harum mawar membunuh bulan
Rahasia tetap diam tak terucap
Untuk itu semua aku mencarimu
Berikan tanganmu jabat jemariku
Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu
Berikan suaramu pada semua bisikanku
Memanggil namamu..
Atau kau ingin aku berteriak sekencang-kencangnya
Agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku
Ini rahasiaku
Tak ada gelap segelap jauh darimu
Tak ada terang yang seterang sinarmu
Tak ada lagi bintang mataku
Ketika bayanganmu menjauh, membentang
Kau buat rindu dan harapku melayang-layang
Kamu pernah menjadi senja menenggelamkan semua
Kini yang tersisa hanya aroma tawa
Yang tersisa hanya harum air mata
Lalu aku mencari suara, kuobrak-abrik namamu
Aku mencari wujudmu
Aku mencarimu
Aku mencarimu...
If you wanna download this song, click here :)
Hujan di Bulan Juni #3
Kamu tahu dua hal yang paling aku suka?
Hujan dan bulan Juni.
Akan menjadi hal yang paling menyenangkan bagiku.
Suatu senja di balik jendela; menikmati jatuhnya titik-titik air dari langit; secangkir teh hijau; dan semua lamunanku tentang kamu.
Tentang kamu yang berlari-lari kecil ketika senja itu mulai gerimis; melindungi kepalamu dengan tas kerja hitam, lalu masuk ke dalam rumah tanpa terlebih dahulu mengetuk pintunya.
Seketika lamunanku tentang dirimu buyar; kamu berdiri di hadapanku. Meringis kecil berusaha menyembunyikan dinginnya air hujan yang menempel pada kulitmu.
Hei, sepertinya ada yang perlu kuralat.
Kamu tahu tiga hal yang paling aku suka?
Hujan, bulan Juni dan Kamu.
Hujan dan bulan Juni.
Akan menjadi hal yang paling menyenangkan bagiku.
Suatu senja di balik jendela; menikmati jatuhnya titik-titik air dari langit; secangkir teh hijau; dan semua lamunanku tentang kamu.
Tentang kamu yang berlari-lari kecil ketika senja itu mulai gerimis; melindungi kepalamu dengan tas kerja hitam, lalu masuk ke dalam rumah tanpa terlebih dahulu mengetuk pintunya.
Seketika lamunanku tentang dirimu buyar; kamu berdiri di hadapanku. Meringis kecil berusaha menyembunyikan dinginnya air hujan yang menempel pada kulitmu.
Hei, sepertinya ada yang perlu kuralat.
Kamu tahu tiga hal yang paling aku suka?
Hujan, bulan Juni dan Kamu.
Hujan di Bulan Juni #2
Halo, Kamu
Tak terasa kita bertemu lagi
Bulan Juni tahun ini
Senyummu masih sama
meringis bersamaan dengan datangnya gerimis
mengajak hujan sebagai kawan
Halo, Kamu
Ayo kita bermain-main lagi
bulan Juni tahun ini
bulan Juni tahun depan
dan bulan Juni tahun-tahun berikutnya
Hujan di Bulan Juni #1
Hujan di bulan Juni
Sepotong hati;
hanyut;
merinai sendiri
lalu terhenti
pada sesuatu merupa muara;
Kamu
Sepotong hati;
hanyut;
merinai sendiri
lalu terhenti
pada sesuatu merupa muara;
Kamu
Kemeja
Sayang, kamu ganteng kalo pake kemeja.
Bukan, bukannya kamu gak ganteng kalo gak pake kemeja. Bukannya kamu gak ganteng kalo cuma pake kaos oblong dan celana jeans sebagai setelannya.
Bukan
Sayang, kamu ganteng kalo pake kemeja.
Bukan, bukannya kamu gak ganteng dibandingkan cowok-cowok lain yang hobi pake kemeja dengan kaos oblong di dalamnya serta rambut model spike yang sudah diolesi gel tentunya.
Bukan.
Sayang, kamu ganteng kalo pake kemeja.
Bukan, kamu gak akan terlihat seperti om-om tigapuluhtahun-an yang menenteng tas kerja sambil membenarkan letak dasi pada kerah kemejanya.
Bukan.
Sayang, kamu ganteng kalo pake kemeja.
Bukan, bukannya aku maksa kamu untuk selalu pake kemeja.
Tapi, ya udah sih, kalo emang kamu gak mau.
Eh, tapi..
Sayang, dengar kan?
Kamu ganteng lho kalo pake kemeja :)
Untuk orang terkasih yang hanya memakai kemeja di saat kerja ;)
Secarik Surat Untuk Bapak Tukang Kebun
Bapak tukang kebun, masih mau merawat kebun rumahku kan?
Meskipun sekarang hanya berisikan melati saja
Bukan lagi mawar merah yang biasa Bapak rawat
Iya, yang Bapak rawat dengan raut muka yang selalu gembira
Tatkala pagi maupun sore
Seingatku, Bapak tak pernah melewatkan seharipun menjenguk si merah
Bapak selalu datang dengan senyum tersungging di wajah Bapak yang semakin menua
Meskipun jari Bapak sering berdarah ketika merawat mawar
Iya, aku masih ingat
Aku baru saja pulang dari sekolah
Sore itu, duduk di teras bertemankan majalah Bobo edisi terbaru
Jari Bapak terluka, lantas aku lari ke belakang
Membawakan obat seadanya
"Terimakasih, Dek, Bapak gak apa kok, cuma sakit sedikit"
Dan kembali senyum tulus menghiasi wajah Bapak
Bapak Tukang Kebun, masih mau merawat kebun rumahku kan?
Mungkin kebunku sedikit berubah
Tidak lagi berhiaskan mawar merah yang penuh duri
Tapi digantikan dengan si putih melati
Kau tahu Pak, kenapa aku menggantinya dengan melati?
Karena dia sederhana dan wangi
Tentunya melati tak memiliki duri seperti mawar
Aku yakin jari Bapak tidak akan terluka lagi
Dan aku bisa menikmati sore dengan majalah Bobo edisi terbaru tanpa khawatir
Ya kan, Pak?
Bapak Tukang Kebun, masih mau merawat kebun rumahku kan?
Aku rindu pada hujan.
Rindu pada tiap tetes yang jatuh secara indah dari langit.
Aku rindu pada hujan.
Yang datang berbaur dengan senja
Membawa perasaan hangat bagi siapapun yang ada
Aku rindu pada hujan.
Yang menemani perjalanan pulang di kala sore
Aku rindu pada hujan.
Dengan segala aroma yang Ia bawa meluncur ke tanah
Hei hujan,
Maukah kau berkunjung barang sejenak?
Menutupi, Tersembunyi.
satu masa , berputar dalam relung ruang.
tanpa titik henti . mungkin akan selalu seperti itu .
pernah mencoba untuk berhenti, tapi tidak berarti .
oke, saya melanjutkan perjalanan tanpa kepastian ini.
menapaki langkah demi langkah . mencari butir-butir makna yang bersembunyi .
bersembunyi dibalik riuhnya kondisi .
aku mencoba mengikutimu .
mengendap-endap di balik bayanganmu .
tapi kamu menghilang . aku gagal .
mungkin kali ini lebih tenang . sudah faham .
akan ada yang lebih bergejolak . mungkin . nanti . tak tau .
entah . entah . entah .
hanya kamu yang bisa menghentikan .
aku hanya berperan . tak akan pernah segan .
tak akan pernah lelah untuk mengejarmu .
mengejarmu dengan caraku .
caraku yang hanya berani bersembunyi dibalik rasa . tanpa terucap kata .
hei! aku menikmati senyumanmu .
aku mengagumimu . tanpa kamu tau .
unik , memang :[
aku menunggumu . menunggumu menghentikan aku yang masih berlari .
mencari ruang kosong dihatimu .
menunggumu memberi titik henti dalam perjalananku .
perjalanan tanpa kepastian ini .
kepastian tanpa tuntutan . itu hatimu .
aku menunggu . disini .
ditemani kondisi yang siap menertawakan .
mungkin akan selamanya seperti ini . mungkin . tidak tau .
tanpa titik henti . mungkin akan selalu seperti itu .
pernah mencoba untuk berhenti, tapi tidak berarti .
oke, saya melanjutkan perjalanan tanpa kepastian ini.
menapaki langkah demi langkah . mencari butir-butir makna yang bersembunyi .
bersembunyi dibalik riuhnya kondisi .
aku mencoba mengikutimu .
mengendap-endap di balik bayanganmu .
tapi kamu menghilang . aku gagal .
mungkin kali ini lebih tenang . sudah faham .
akan ada yang lebih bergejolak . mungkin . nanti . tak tau .
entah . entah . entah .
hanya kamu yang bisa menghentikan .
aku hanya berperan . tak akan pernah segan .
tak akan pernah lelah untuk mengejarmu .
mengejarmu dengan caraku .
caraku yang hanya berani bersembunyi dibalik rasa . tanpa terucap kata .
hei! aku menikmati senyumanmu .
aku mengagumimu . tanpa kamu tau .
unik , memang :[
aku menunggumu . menunggumu menghentikan aku yang masih berlari .
mencari ruang kosong dihatimu .
menunggumu memberi titik henti dalam perjalananku .
perjalanan tanpa kepastian ini .
kepastian tanpa tuntutan . itu hatimu .
aku menunggu . disini .
ditemani kondisi yang siap menertawakan .
mungkin akan selamanya seperti ini . mungkin . tidak tau .
Penyair muda berbakat yang saya kagumi, Oki Erwina Pianisia.
Lagi
Malam ini bulan tak tampak
Tega membiarkan langit hitam kosong
Bintang pun enggan datang
Dan langit benar-benar hitam kosong
Ah, mungkin bulan sedang marah
Hingga tak mampu menemani malam
Lalu,
bagaimana dengan Bintang?
Bintang pun mengalah
Ia takut sinarnya tak indah
Tak seindah ketika bersama Bulan
Bintang menunggu,
Menunggu Bulan untuk bersinar bersama,
lagi ..
Dua Tiga Belas
Tiga belas yang ini, beda
Tidak seperti yang orang katakan
Tiga belas itu sial
Tiga belas itu pembawa petaka
Entah apa itu trikaidekaphobia, atau paraskevidekatriphobia
Ah, sudahlah!
Mereka semua muak dengan tiga belas
Iya, muak!
Tapi,
Tiga belas yang ini, indah
Tiga belas yang ini, istimewa
Tiga belas yang mampu mengukir senyum untuk tiga belas lainnya
Ya,
ada tiga belas yang lain
Dua tiga belas yang entah tuli atau pura-pura tak peduli
Terserah apa yang mereka katakan
Karena dua tiga belas itu percaya
Di antara satu dan tiga
Ada dua
Dua yang saling melengkapi
Subscribe to:
Posts (Atom)


